IBU KARTINI BISA MARAH
Perencanaan Bangunan
www.JinProperti.com - Saat profile picture BB saya sedang memasang gambar 3D rencana rumah type 36 untuk proyek RSH (rumah sehat sederhana) di Gotri Kalinyamatan Jepara yang proyeknya saya beri nama GOTRI RESIDENCE (1,8 ha), ada yang iseng komentar seperti ini;
Suhu AW, kok model rumahnya culun banget yeah??
Berawal dari komentar tersebut, kemudian kami terlibat dalam chatting singkat yang intinya dia berpendapat bahwa model vacadenya buat dia terlalu sederhana dan kurang menarik secara estetika. Malah dia mengusulkan untuk memakai jasa temannya yang juga seorang arsitek yang dia yakini bisa mendesain lebih bagus dari gambar yang saya pasang sebagai profile picture BB saya.
Hehe .. Saya dengan tersenyum menjelaskan bahwa gambar culun tersebut adalah request dari saya. TOR (term of reference) yang kami berikan ke arsitek memang untuk mendesain gambar desain rumah yang simpel dan sesederhana mungkin, supaya harga pelaksanaan konstruksinya di lapangan tak melebihi Rp 1 jt/m2. Jadi bukan karena arsiteknya tak mampu memunculkan desain yang bagus.
Makanya bentuknya simpel, bahkan denahnya kotak tanpa tekukan guna menghemat kolom praktis. Secara estetis kami hanya olah sedikit dengan permainan tekstur, material dan warna, agar vacadenya tetap memikat.
Ternyata setelah chatting beberapa saat, saya baru paham bahwa teman yang komentar via BBM tersebut tidak paham kalau gambar itu adalah desain rumah sederhana di kabupaten kecil seperti Jepara. Dia sangka itu desain rumah kelas real estate. Dan yang lebih parah lagi, dia menyangka Jepara itu nama kecamatan yang berada di kota Semarang. Waduuuuuhhhh .... Ibu RA Kartini bisa marah kalau Jepara dianggap bagian dari Semarang.
Sobat properti, saya sudah pernah mengembangkan proyek RSH di Dermaga Pratama Bogor (19 ha), Bukit Berbunga Jatiluhur Purwakarta (7,5 ha), dan Cikampek Berbunga Karawang (6,5 ha). Dan satu kesimpulan yang bisa saya ambil adalah bahwa di segmen market kelas tersebut, HARGA ADALAH SESUATU YANG SENSITIF. Bahkan selisih harga sekedar 2 - 3 juta sudah menyebabkan mereka lari ke kompetitor.
Karena itu untuk proyek GOTRI RESIDENCE ini kami menerapkan jurus COST LEADERSHIP sebagai keunggulan kompetitif yang akan kami ciptakan, supaya harga jual kami lebih murah dibanding harga pesaing, tetapi memiliki level benefit yang sama dengan mereka.
Dalam menyusun harga jual RSH, komponen harga tanah bahkan hanya 1/3 harga bangunan. Jadi jika mau efisien pastilah saya harus mereduksi harga bangunan supaya jatuhnya tidak mahal.
Ini adalah perhitungan harga jual versi QUICK COUNT. Bagi yang belum pernah ikut Workshop Properti dari saya semoga tetap bisa mencerna dengan baik.
Harga Tanah (brutto) +Pajak/Legal
= Rp 55.000/m2 + Rp 5.000/m2
= Rp 60.000/m2
Harga Tanah (netto), efektif 60%
= Rp 60.000 : 60%
= Rp 100.000/m2. (A)
Biaya Perijinan
= Rp 10.000/m2. (B)
Biaya Pematangan Lahan
= Rp 75.000/m2. (C)
Biaya Dibayar Dimuka (OHC)
= Rp 50.000/m2. (D)
HARGA POKOK TANAH (HPT)
= (A) + (B) + (C) + (D)
= Rp 235.000/m2. (E)
TARGET LABA
= Rp 115.000/m2. (F)
HARGA JUAL TANAH
= (E) + (F)
= Rp 350.000/m2
Jika kita sudah selesai menghitung berapa harga jual tanah kepada konsumen, maka berikutnya kita tinggal menghitung harga jual rumah yang akan kita pasarkan.
RUMAH T-36/72
Bangunan
= 36 x Rp 1 jt/m2
= Rp 36.000.000. (A)
Tanah
= 72 x Rp 350 rb/m2
= Rp 25.200.000. (B)
Listrik, Air, IMB, SHGB, Fee
= Rp 6.000.000. (C)
HARGA DASAR
= (A) + (B) + (C)
= Rp 67.200.000. (D)
PPH Final 1%
= Rp 670.000. (E)
Gimmick
= Rp 1.800.000. (F)
HARGA JUAL KONSUMEN
= (D) + (E) + (F)
= Rp 69.970.000
Pembulatan
= Rp 70.000.000
Nah, itulah harga jual ke konsumen. Gotcha!! Cocok karo impen. Sesuai dengan impian. Harga hanya Rp 70 juta saja, sehingga PPN nya ditanggung negara dan konsumen bisa menikmati bunga bersubsidi FLPP dari BTN yang angsuran perbulannya sangat ringan.
Angsuran yang ringan akan membuat konsumen yakin dengan kemampuannya, dan akan timbul keberaniannya untuk membeli. Mantap. Jadi tak masalah dikatakan model vacadenya culun, karena strategi saya memang fokus ke harga jual yang kompetitif di mata konsumen.
Jika untuk mengejar desain bagus ternyata biaya produksi bangunan anda misalkan naik jadi Rp 1,1 jt/m2, maka anda mesti paham bahwa harga jual anda akan naik sebesar Rp 100.000 x 36 = Rp 3,6 jt. Dan selisih Rp 3,6 jt sudah akan membuat konsumen kabur ke pesaing anda.
Selasa, 26 Juni 2012
Minggu, 24 Juni 2012
PROPERTY BLOCKING TIME
PROPERTY BLOCKING TIME (PBT)
Perguruan Kungfu Property (PKP) menawarkan paket Property Blocking Time selama 2 hari (jam 09.00 s/d 17.00) untuk multitasking segala hal yang terkait dengan bisnis properti. Bisa dimanfaatkan dalam bentuk workshop, mentoring, coaching, asistensi, briefing, dll.
Tempat dan tanggal fleksibel sesuai dengan request dari klien. Syaratnya cuma 1, yaitu; digelar akhir pekan (Sabtu-Minggu), atau kombinasi 1 hari kerja + 1 hari libur nasional. Penyediaan tempat, konsumsi (lunch + coffee/tea) dan LCD proyektor menjadi beban klien.
Anda bisa meminta PKP menggelar workshop Cara Pinter Menjadi Developer dengan peserta 1 orang secara private atau 50 orang di Balai Desa atau di Hotel. Biayanya tetap sama.
Anda bisa meminta PKP menggelar training Selling Skill untuk mentraining 10 sales di hari pertama, dan menyampaikan materi Marketing Plan untuk level Supervisor dan Marketing Manager di hari ke 2. Biayanya tetap sama.
Anda bisa meminta PKP untuk merapikan sisdur (sistem dan prosedur) di proyek anda, dan menduplikasi semua form-form standar di bisnis properti (marketing, keuangan, teknik) untuk diaplikasikan di proyek anda.
Anda bisa meminta PKP menyusun serta membuat ACTION PLAN untuk proyek anda, yang bisa dijadikan proposal detail guna menggandeng MPM (mitra pemilik modal). Mendampingi dan menjadi mentor anda langsung dalam pembuatan ACTION PLAN sebuah proyek properti. Anda bisa learning by doing.
Semua hal terkait bisnis properti bisa anda lakukan bersama PKP (Perguruan Kungfu Properti) secara efektif dan efisien dalam 2 hari blocking time tersebut, kecuali mengharapkan jasa PKP sebagai konsultan perencana, karena PKP tidak menjalankan fungsi tersebut.
Biaya Property Blocking Time adalah;
Rp. 5.000.000,- (lima juta Rupiah)
Ditambah akomodasi (transport PP dan penginapan selama 1 atau 2 malam standar bintang 3). .
Bisa anda komersilkan dengan cara menjual paket workshop/training ke pihak lain.
Berminat? Kirim email ke;
ari_kinerja@yahoo.co.id
PIN 25DCAE68 / HP 0878 32511888
Profil trainer dari PKP, baca;
RAMALAN TENTANG LIMBAD
RAMALAN TENTANG LIMBAD
Produk Inovatif
AriWibowoJinProperti.blogspot.com - Workshop Properti selama 2 hari di Hotel Oasis Senen Jakarta tanggal 23-24 Juni 2012 berjalan dengan sukses dan pesertanya penuh antusias. Saat hari kedua sampai ke materi marketing dan sedang membahas Life Cycle Product, saya sambil merapal ilmu jin didepan para peserta berani menyampaikan ramalan tentang Limbad.
Saya meramal bahwa tak sampai 3 tahun sejak tanggal hari ini (24 Juni 2012), Limbad yang kita kenal berambut gondrong gimbal dan tak bisa bicara akan mengubah salah satu penampilannya, yaitu berganti gaya rambut atau dia akan tampil tak membisu lagi, melainkan bisa berbicara didepan publik.
Kenapa saya begitu yakin dengan hal ini? Bukan karena saya peramal atau supranatural, tetapi karena saya tahu ilmu marketing dan meramal memakai teori marketing.
Sobat properti, dalam ilmu marketing kita diajarkan bahwa sebuah produk itu memiliki SIKLUS atau DAUR HIDUP, yang kita sebut LIFE CYCLE PRODUCT.
Ada 4 (empat) phase hidup product, yaitu ;
Phase #1 Perkenalan (Introduction)
Phase #2 Pertumbuhan (Growth)
Phase #3 Kedewasaan (Maturity)
Phase #4 Penurunan (Decline)
Secara khusus saya ingin membahas Phase #3 (Kedewasan/Maturity), dimana dalam phase ini sebuah produk sudah mengalami kedewasaan, dan mulai uzur. Pesaing-pesaing baru bermunculan menawarkan konsep baru dengan kemasan baru, sehingga produk lama terlihat kuno dan tak diminati konsumen lagi.
Dalam kondisi seperti itu, salah satu jurus pemasaran yang sangat disarankan adalah memunculkan PRODUK INOVATIF. Buatlah kemasan (konteks) yang berbeda meski mungkin kontennya sama. Atau syukur-syukur kontennya juga mengalami inovasi yang menambah level benefit di mata konsumen.
Kalau anda tidak melakukan strategi Produk Inovatif, jangan heran jika konsumen bosan dan menjauhi produk anda.
Saya yakin Limbad akan ganti gaya rambut atau mendadak tampil dengan bisa ngomong, karena tak sampai tanggal 24 Juni 2015 penggemarnya sudah bosan dengan gayanya yang itu-itu saja. Limbad perlu mengubah penampilan supaya ada sesuatu yang baru dan menarik minat penggemar untuk terus menikmati atraksinya.
Begitu pula dengan produk properti anda, harus memunculkan produk inovatif supaya tetap diminati konsumen dan kompetitif terhadap pesaing, jika sudah memasuki phase kedewasaan (maturity). Dengan implementasi seperti apa?
1. Buatlah cluster baru dengan konsep dan thematic yang baru, supaya konsumen merasa bahwa produk yang akan mereka beli adalah produk baru yang update, bukan produk kadaluwarsa.
2. Ubahlah style bangunannya. Misal; Jika sebelumnya style modern minimalis, ubahlah menjadi style klasik yang anggun menawan. Supaya konsumen tertarik dengan style (gaya) bangunan yang baru tersebut.
3. Ubahlah vacadenya, meski itu hanya mengubah warna cat, mengubah tekstur, atau sekedar mengganti materialnya. Sedikit mengubah vacade akan membuat konsumen merasa bahwa rumah yang mereka beli berbeda dengan rumah sebelumnya di komplek yang sama.
4. Ubahlah denah (tata ruangnya). Misal; jika semula dalam denah letak KM/WC diapit 2 kamar tidur, anda ubah penempatan KM/WC menjadi kebelakang disamping kamar kedua. Mengubah denah bisa menciptakan kesan bahwa rumah yang anda jual di phase kedewasaan berbeda dengan yang dipasarkan di phase sebelumnya (perkenalan dan pertumbuhan).
5. Ubahlah luasan atau type bangunannya. Jika semula T-36 anda ubah menjadi T-30 saja, tetapi masih tetap 2 kamar. Beda type memberi kesan kuat bahwa produk yang kita pasarkan adalah produk baru dengan luasan baru dan benefit yang baru.
Kelima hal diatas hanyalah beberapa usulan implementatif untuk memunculkan produk inovatif. Bukan berarti harus dilakukan semua, tapi cukup salah satu atau beberapa saja. Essensi terpenting adalah bahwa anda mesti memunculkan sesuatu yang baru supaya kejenuhan serta kebosanan konsumen direduksi. Jangan berpikir bahwa inovasi perubahan itu harus selalu ekstrem dan signifikan. Karena terkadang perubahan kecil sekedar menambah profil dan mengganti warna cat saja sudah dianggap 'inovasi' di mata konsumen.
Sebagai penutup, saya meminta pembaca artikel ini untuk mengingat 1 hal penting bahwa jika suatu saat nanti Limbad berubah gaya rambutnya atau mendadak bisa ngomong, maka hal itu sudah pernah saya ramalkan sebelumnya.
Produk Inovatif
AriWibowoJinProperti.blogspot.com - Workshop Properti selama 2 hari di Hotel Oasis Senen Jakarta tanggal 23-24 Juni 2012 berjalan dengan sukses dan pesertanya penuh antusias. Saat hari kedua sampai ke materi marketing dan sedang membahas Life Cycle Product, saya sambil merapal ilmu jin didepan para peserta berani menyampaikan ramalan tentang Limbad.
Saya meramal bahwa tak sampai 3 tahun sejak tanggal hari ini (24 Juni 2012), Limbad yang kita kenal berambut gondrong gimbal dan tak bisa bicara akan mengubah salah satu penampilannya, yaitu berganti gaya rambut atau dia akan tampil tak membisu lagi, melainkan bisa berbicara didepan publik.
Kenapa saya begitu yakin dengan hal ini? Bukan karena saya peramal atau supranatural, tetapi karena saya tahu ilmu marketing dan meramal memakai teori marketing.
Sobat properti, dalam ilmu marketing kita diajarkan bahwa sebuah produk itu memiliki SIKLUS atau DAUR HIDUP, yang kita sebut LIFE CYCLE PRODUCT.
Ada 4 (empat) phase hidup product, yaitu ;
Phase #1 Perkenalan (Introduction)
Phase #2 Pertumbuhan (Growth)
Phase #3 Kedewasaan (Maturity)
Phase #4 Penurunan (Decline)
Secara khusus saya ingin membahas Phase #3 (Kedewasan/Maturity), dimana dalam phase ini sebuah produk sudah mengalami kedewasaan, dan mulai uzur. Pesaing-pesaing baru bermunculan menawarkan konsep baru dengan kemasan baru, sehingga produk lama terlihat kuno dan tak diminati konsumen lagi.
Dalam kondisi seperti itu, salah satu jurus pemasaran yang sangat disarankan adalah memunculkan PRODUK INOVATIF. Buatlah kemasan (konteks) yang berbeda meski mungkin kontennya sama. Atau syukur-syukur kontennya juga mengalami inovasi yang menambah level benefit di mata konsumen.
Kalau anda tidak melakukan strategi Produk Inovatif, jangan heran jika konsumen bosan dan menjauhi produk anda.
Saya yakin Limbad akan ganti gaya rambut atau mendadak tampil dengan bisa ngomong, karena tak sampai tanggal 24 Juni 2015 penggemarnya sudah bosan dengan gayanya yang itu-itu saja. Limbad perlu mengubah penampilan supaya ada sesuatu yang baru dan menarik minat penggemar untuk terus menikmati atraksinya.
Begitu pula dengan produk properti anda, harus memunculkan produk inovatif supaya tetap diminati konsumen dan kompetitif terhadap pesaing, jika sudah memasuki phase kedewasaan (maturity). Dengan implementasi seperti apa?
1. Buatlah cluster baru dengan konsep dan thematic yang baru, supaya konsumen merasa bahwa produk yang akan mereka beli adalah produk baru yang update, bukan produk kadaluwarsa.
2. Ubahlah style bangunannya. Misal; Jika sebelumnya style modern minimalis, ubahlah menjadi style klasik yang anggun menawan. Supaya konsumen tertarik dengan style (gaya) bangunan yang baru tersebut.
3. Ubahlah vacadenya, meski itu hanya mengubah warna cat, mengubah tekstur, atau sekedar mengganti materialnya. Sedikit mengubah vacade akan membuat konsumen merasa bahwa rumah yang mereka beli berbeda dengan rumah sebelumnya di komplek yang sama.
4. Ubahlah denah (tata ruangnya). Misal; jika semula dalam denah letak KM/WC diapit 2 kamar tidur, anda ubah penempatan KM/WC menjadi kebelakang disamping kamar kedua. Mengubah denah bisa menciptakan kesan bahwa rumah yang anda jual di phase kedewasaan berbeda dengan yang dipasarkan di phase sebelumnya (perkenalan dan pertumbuhan).
5. Ubahlah luasan atau type bangunannya. Jika semula T-36 anda ubah menjadi T-30 saja, tetapi masih tetap 2 kamar. Beda type memberi kesan kuat bahwa produk yang kita pasarkan adalah produk baru dengan luasan baru dan benefit yang baru.
Kelima hal diatas hanyalah beberapa usulan implementatif untuk memunculkan produk inovatif. Bukan berarti harus dilakukan semua, tapi cukup salah satu atau beberapa saja. Essensi terpenting adalah bahwa anda mesti memunculkan sesuatu yang baru supaya kejenuhan serta kebosanan konsumen direduksi. Jangan berpikir bahwa inovasi perubahan itu harus selalu ekstrem dan signifikan. Karena terkadang perubahan kecil sekedar menambah profil dan mengganti warna cat saja sudah dianggap 'inovasi' di mata konsumen.
Sebagai penutup, saya meminta pembaca artikel ini untuk mengingat 1 hal penting bahwa jika suatu saat nanti Limbad berubah gaya rambutnya atau mendadak bisa ngomong, maka hal itu sudah pernah saya ramalkan sebelumnya.
MADONNA RASA TOMAT
MADONNA RASA TOMAT
Akronim Dalam Penamaan Produk
AriWibowoJinProperti.blogspot.com - Minggu itu saya sedang cari hawa sejuk dan mau rilex membuang kepenatan akibat rutinitas pekerjaan yang sedang overload. Dan seperti biasa saya memilih kawasan Bandungan di lereng gunung Ungaran yang hanya 45 menit waktu tempuh dari rumah saya di Ungaran.
Saya sudah makan bakso, sate kelinci, jagung rebus, wedang ronde, tahu serasi, dan gula kacang .. Hmm, perut kenyang serasa mau meletus. Pulangnya saya mampir ke sebuah kios kecil yang bernama MIRAMA. Disitu saya tertarik membeli oleh-oleh dalam kemasan kecil yang berlabel TORAKUR. Aneh ya? Entah itu makanan apa.
Saya membaca tulisannya di doos ada berbunyi seperti ini. TORAKUR = Tomat Rasa Kurma, oleh-oleh khas Bandungan kabupaten Semarang. Ini produk inovatif yang muncul guna merespon orang berwisata yang saat pulang gemar membawakan buah tangan (oleh-oleh) untuk keluarga di rumah. Rasanya manis seperti kurma.
Namanya unik, karena berupa akronim (singkatan). Ketimbang menyebut Tomat Rasa Kurma yang sebanyak 6 suku kata, di lidah kita memang lebih enak mengeja 3 suku kata; TO - RA - KUR. Easy spelling, easy listening, unique. Secara kaidah marketing, penamaannya oke banget.
Saya bertanya kepada penjualnya; "Mbak, ini nama TO-RA-KUR siapa yang memberi nama?". Penjualnya mengaku tidak tahu karena namanya sudah beredar dari mulut ke mulut. "Kalau warung saya namanya MI-RA-MA saya yang menamai sendiri. Singkatan dari Mijah Rasa Madonna ...", katanya sambil tersenyum senyum.
Hahahaha ...... Saya ketawa ngakak. Lucu juga ya? MI-RA-MA (Mijah Rasa Madonna) menjual TO-RA-KUR (Tomat Rasa Kurma). Mestinya ada oleh-oleh bernama Madonna Rasa Tomat (MA-RA-TO) juga biar unik. Soal definisi 'rasa Madonna' silahkan berimajinasi sendiri deh, saya kagak ikut-ikut.
Sobat properti, ditengah masyarakat kita lazim banget budaya singkat menyingkat kata. Karena itu saat kita menamai produk properti yang kita kembangkan, pikirkan juga bagaimana nanti publik membuat akronim.
Akronim CITOS (Cilandak Town Square) sangat ngetop dan enak di lidah. Sampai-sampai diduplikasi oleh SUTOS (Surabaya Town Square) dan juga ARTOS (Armada Town Square) di Magelang.
BSD (Bumi Serpong Damai) juga enak dieja sehingga di Semarang ada perumahan berskala kota yang dinamai BSB (Bukit Semarang Baru), yang ejaannya (spelling) hampir mirip dengan BSD.
Di Yogya bahkan ada perumahan bernama BCL (Bumi Citra Lestari) yang akronimnya sama persis dengan penyanyi bernama Bunga Citra Lestari.
Nah, sekarang tinggal anda mengeksplorasi kreativitas anda untuk memberi nama proyek yang jika mesti disebut akronimnya tetap enak didengar dan mudah dieja. Meskipun demikian, akronim bukanlah hal yang terlalu prinsip jika tanpa akronim namanya sudah memenuhi kaidah easy spelling, easy listening dan penuh makna. Karena nama hanyalah KONTEKS (kemasan) saja. Tapi KONTEN yang sesungguhnya tetaplah produk itu sendiri dengan segala benefitnya.
Sudah punya ide untuk penamaan proyek properti anda?
Akronim Dalam Penamaan Produk
AriWibowoJinProperti.blogspot.com - Minggu itu saya sedang cari hawa sejuk dan mau rilex membuang kepenatan akibat rutinitas pekerjaan yang sedang overload. Dan seperti biasa saya memilih kawasan Bandungan di lereng gunung Ungaran yang hanya 45 menit waktu tempuh dari rumah saya di Ungaran.
Saya sudah makan bakso, sate kelinci, jagung rebus, wedang ronde, tahu serasi, dan gula kacang .. Hmm, perut kenyang serasa mau meletus. Pulangnya saya mampir ke sebuah kios kecil yang bernama MIRAMA. Disitu saya tertarik membeli oleh-oleh dalam kemasan kecil yang berlabel TORAKUR. Aneh ya? Entah itu makanan apa.
Saya membaca tulisannya di doos ada berbunyi seperti ini. TORAKUR = Tomat Rasa Kurma, oleh-oleh khas Bandungan kabupaten Semarang. Ini produk inovatif yang muncul guna merespon orang berwisata yang saat pulang gemar membawakan buah tangan (oleh-oleh) untuk keluarga di rumah. Rasanya manis seperti kurma.
Namanya unik, karena berupa akronim (singkatan). Ketimbang menyebut Tomat Rasa Kurma yang sebanyak 6 suku kata, di lidah kita memang lebih enak mengeja 3 suku kata; TO - RA - KUR. Easy spelling, easy listening, unique. Secara kaidah marketing, penamaannya oke banget.
Saya bertanya kepada penjualnya; "Mbak, ini nama TO-RA-KUR siapa yang memberi nama?". Penjualnya mengaku tidak tahu karena namanya sudah beredar dari mulut ke mulut. "Kalau warung saya namanya MI-RA-MA saya yang menamai sendiri. Singkatan dari Mijah Rasa Madonna ...", katanya sambil tersenyum senyum.
Hahahaha ...... Saya ketawa ngakak. Lucu juga ya? MI-RA-MA (Mijah Rasa Madonna) menjual TO-RA-KUR (Tomat Rasa Kurma). Mestinya ada oleh-oleh bernama Madonna Rasa Tomat (MA-RA-TO) juga biar unik. Soal definisi 'rasa Madonna' silahkan berimajinasi sendiri deh, saya kagak ikut-ikut.
Sobat properti, ditengah masyarakat kita lazim banget budaya singkat menyingkat kata. Karena itu saat kita menamai produk properti yang kita kembangkan, pikirkan juga bagaimana nanti publik membuat akronim.
Akronim CITOS (Cilandak Town Square) sangat ngetop dan enak di lidah. Sampai-sampai diduplikasi oleh SUTOS (Surabaya Town Square) dan juga ARTOS (Armada Town Square) di Magelang.
BSD (Bumi Serpong Damai) juga enak dieja sehingga di Semarang ada perumahan berskala kota yang dinamai BSB (Bukit Semarang Baru), yang ejaannya (spelling) hampir mirip dengan BSD.
Di Yogya bahkan ada perumahan bernama BCL (Bumi Citra Lestari) yang akronimnya sama persis dengan penyanyi bernama Bunga Citra Lestari.
Nah, sekarang tinggal anda mengeksplorasi kreativitas anda untuk memberi nama proyek yang jika mesti disebut akronimnya tetap enak didengar dan mudah dieja. Meskipun demikian, akronim bukanlah hal yang terlalu prinsip jika tanpa akronim namanya sudah memenuhi kaidah easy spelling, easy listening dan penuh makna. Karena nama hanyalah KONTEKS (kemasan) saja. Tapi KONTEN yang sesungguhnya tetaplah produk itu sendiri dengan segala benefitnya.
Sudah punya ide untuk penamaan proyek properti anda?
Kamis, 21 Juni 2012
YANG JELAS BUKAN BENCONG
Diskon Tersembunyi
AriWibowoJinProperti.blogspot.com - Pernah suatu ketika saya datang ke sebuah authorized dealer mobil di Semarang guna meminta informasi soal produk up date yang sedang dipasarkan. Disana saya diberi penjelasan soal product knowledge, skim pembayaran dll.
Saya bukan sekedar mendatangi 1 dealer saja, tapi ada 3 dealer mobil (A, B dan C) yang saya datangi guna melakukan komparasi soal produk, soal harga dll. Sebenarnya ada 2 produk mobil yang menarik minat saya, tapi berdasarkan komparasi harga yang saya lakukan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke salah satu merk karena pertimbangan soal HARGA.
Setelah saya memilih produk A, tak sampai seminggu kemudian saya dikejar-kejar oleh sales produk B yang mobilnya tak jadi saya beli. Anehnya, sales B ini mencoba membujuk saya dengan menawarkan POTONGAN HARGA Rp 14 JUTA dari harga sebelumnya yang pernah ditawarkan ke saya. Wah, wis kasep mas ... (Sudah terlanjur mas). Kenapa gak sejak dulu-dulu kasih tahu saya soal diskon 14 juta tersebut?
"Habisnya bapak gak minta diskon sih, jadinya ya gak kami beri ....", jawab si sales sambil ngeles.
Sobat properti, ternyata ada diskon yang tidak diberikan jika konsumennya tidak meminta. Padahal ada kesempatan untuk mendapatkan diskon tersebut.
Dalam artilkel ini saya ingin berbagi pengalaman soal adanya potongan pajak waris sampai dengan 50% dari tarif pajak aslinya. Kenapa saya mesti berbagi pengetahuan soal pajak waris? Karena suatu saat mungkin anda akan ketemu kasus sebuah sertifikat yang nama tertera di sertifikat ternyata sudah meninggal (almarhum) dan belum dibalik nama ke ahli warisnya (istri dan anak-anak).
Mereka tak bisa serta merta menjual ke kita sebelum hak berpindah ke ahli waris terlebih dahulu. Padahal saat ahli waris mendapatkan hak atas tanah milik orang tuanya (baca; bapaknya), ada kewajiban pajak waris dengan rumus = 5% x (NJOP - Rp 300.000.000) dimana angka pengurang Rp 300.000.000 sudah merupakan ketentuan sesuai peraturan/perundangan yang berlaku.
Misalkan luas lahan warisan 3.000 m2 dan harga NJOP Rp 800.000/m2, maka pajak waris yang harus dibayar adalah. = 5 % x [ (3.000 x 800.000) - 300.000.000 ] = Rp 105.000.000
Nah, anda mesti tahu bahwa ternyata Undang Undang BPHTB memungkinkan ahli waris mengajukan keringanan sebesar 50% dari pajak BPHTB (waris) yang perlu dibayar. Menurut notaris yang pernah membantu saya dalam urusan ini, hampir semua permohonan yang diajukan pasti disetujui oleh Kantor Pajak, dimana dokumen persetujuannya bernama SKB (Surat Ketetapan .....). Saya lupa B nya apa kepanjangannya. Yang jelas bukan Bencong.
Tapi jika ahli waris tidak mengajukan permohonan diskon pajak ini, ya tentu saja mesti membayar penuh sesuai undang-undang BPHTB yang berlaku.
Diskon Tersembunyi
AriWibowoJinProperti.blogspot.com - Pernah suatu ketika saya datang ke sebuah authorized dealer mobil di Semarang guna meminta informasi soal produk up date yang sedang dipasarkan. Disana saya diberi penjelasan soal product knowledge, skim pembayaran dll.
Saya bukan sekedar mendatangi 1 dealer saja, tapi ada 3 dealer mobil (A, B dan C) yang saya datangi guna melakukan komparasi soal produk, soal harga dll. Sebenarnya ada 2 produk mobil yang menarik minat saya, tapi berdasarkan komparasi harga yang saya lakukan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke salah satu merk karena pertimbangan soal HARGA.
Setelah saya memilih produk A, tak sampai seminggu kemudian saya dikejar-kejar oleh sales produk B yang mobilnya tak jadi saya beli. Anehnya, sales B ini mencoba membujuk saya dengan menawarkan POTONGAN HARGA Rp 14 JUTA dari harga sebelumnya yang pernah ditawarkan ke saya. Wah, wis kasep mas ... (Sudah terlanjur mas). Kenapa gak sejak dulu-dulu kasih tahu saya soal diskon 14 juta tersebut?
"Habisnya bapak gak minta diskon sih, jadinya ya gak kami beri ....", jawab si sales sambil ngeles.
Sobat properti, ternyata ada diskon yang tidak diberikan jika konsumennya tidak meminta. Padahal ada kesempatan untuk mendapatkan diskon tersebut.
Dalam artilkel ini saya ingin berbagi pengalaman soal adanya potongan pajak waris sampai dengan 50% dari tarif pajak aslinya. Kenapa saya mesti berbagi pengetahuan soal pajak waris? Karena suatu saat mungkin anda akan ketemu kasus sebuah sertifikat yang nama tertera di sertifikat ternyata sudah meninggal (almarhum) dan belum dibalik nama ke ahli warisnya (istri dan anak-anak).
Mereka tak bisa serta merta menjual ke kita sebelum hak berpindah ke ahli waris terlebih dahulu. Padahal saat ahli waris mendapatkan hak atas tanah milik orang tuanya (baca; bapaknya), ada kewajiban pajak waris dengan rumus = 5% x (NJOP - Rp 300.000.000) dimana angka pengurang Rp 300.000.000 sudah merupakan ketentuan sesuai peraturan/perundangan yang berlaku.
Misalkan luas lahan warisan 3.000 m2 dan harga NJOP Rp 800.000/m2, maka pajak waris yang harus dibayar adalah. = 5 % x [ (3.000 x 800.000) - 300.000.000 ] = Rp 105.000.000
Nah, anda mesti tahu bahwa ternyata Undang Undang BPHTB memungkinkan ahli waris mengajukan keringanan sebesar 50% dari pajak BPHTB (waris) yang perlu dibayar. Menurut notaris yang pernah membantu saya dalam urusan ini, hampir semua permohonan yang diajukan pasti disetujui oleh Kantor Pajak, dimana dokumen persetujuannya bernama SKB (Surat Ketetapan .....). Saya lupa B nya apa kepanjangannya. Yang jelas bukan Bencong.
Tapi jika ahli waris tidak mengajukan permohonan diskon pajak ini, ya tentu saja mesti membayar penuh sesuai undang-undang BPHTB yang berlaku.
Selasa, 19 Juni 2012
GETUK KETHEK NGETOP DI USA
GETUK KETHEK NGETOP DI USA
Menentukan Nama Brand
AriWibowoJinPoperti.blogspot.com - Makanan olahan dari bahan dasar singkong ada banyak macam. Umumnya berumur 3-4 hari. Nah, di distrik USA (Ungaran, Salatiga, Ambarawa) saat ini lagi ngetop yang namanya Getuk Kethek. Ini getuk dengan resep basic dan tradisional yang umurnya hanya 6 jam saja. Tak pakai pengawet, dan salah satu bahan dasarnya parutan kelapa yang cepat basi.
Getuk adalah makanan tradisional asal Jawa, terbuat dari singkong yang ditumbuk, lalu diramu dengan parutan kelapa dan gula. Warnanya putih singkong. Dicetak bentuk balok kecil-kecil. Satu doos isi 20 balok dijual harga Rp 9.000. Rasanya gurih manis, dijamin enak buat teman ngopi.
Yang bikin saya penasaran adalah kenapa namanya Getuk Kethek? Karena kethek itu artinya monyet alias kera. Padahal getuk adalah makanan manusia, bukan makanan monyet. Usut punya usut, rupanya getuk itu diproduksi di sebuah gang kecil di kota Salatiga, tepatnya dekat pertigaan ABC. Mereka sekedar jual getuk tradisional saja, tanpa bahan pengawet. Penjualan cuma jam 9 s/d 11 pagi, lalu dilanjut jam 15 s/d 17 sore. Diluar jam itu tak melayani penjualan. Sebenarnya mula-mula getuk itu dijual tanpa merk. Tapi orang-orang pasti perlu identitas untuk penamaan. Kebetulan si penjual getuk itu didepan warungnya memelihara monyet (kethek) yang dirantai di rumah-rumahan diatas pohon. Jadilah akhirnya orang menyebut nama Getuk Kethek.
Lambat laun nama getuk kethek makin ngetop di USA (Ungaran Salatiga Ambarawa) seiring dengan citarasanya yang disukai orang. Keunggulannya adalah 'kembali ke selera asal'. Tanpa zat pewarna, tanpa zat pengawet. Itu differensiasi yang sekaligus menjadi positioning getuk kethek di benak konsumen.
Saat pemilik mulai sadar kebutuhan penamaan atas getuknya, dia memberi nama Getuk Satu Rasa. Bahkan doosnya pun diberi merk Getuk Satu Rasa, tapi tetap saja orang dari mulut ke mulut terlanjur menyebutnya sebagai getuk kethek.
Sobat properti, kata Shakespeare; Apalah arti sebuah nama? Meski guru SD saya mengatakan bahwa nama adalah bunyi terindah bagi pemiliknya.
Jika anda tidak menamai produk anda, maka orang lain yang akan memberikan nama. Masih syukur kalau nama yang diberikan bagus. Kalau namanya jelek? Bisa-bisa pemiliknya senewen.
Saya sekarang dapat julukan sebagai JIN PROPERTI juga secara kebetulan dan itu pemberian julukan dari orang lain, bukan inisiatif saya. Karena sejarahnya dulu saya mengajar paket workshop dengan modul bernama KETEMU JIN PROPERTI.
Maksudnya adalah;
KEuangan
TEknik
Marketing
Umum
periJINan
PROPERTI
Nah, orang yang tidak paham bahwa itu adalah akronim, sering menelan secara harfiah bahwa workshopnya adalah ketemu JIN PROPERTI, dan yang jadi jin itu adalah saya sendiri. Wagu tenan ya? Saya lebih senang disebut mirip Sammy Simorangkir (Kerispatih) ketimbang disebut mirip jin yang bisa dimasukkan ke botol. Tapi siapa bisa memilih? Hahaha ...
Sobat properti, memberi nama untuk produk properti kita bukan hal mudah. Itu nampak sederhana, tapi sebenarnya sebuah BRAND NAME memberi kontribusi signifikan terhadap kesuksesan pemasaran produk. Menurut saya pribadi, pemberian nama (brand) harus memenuhi 4 kaidah sebagai berikut;
1. Unique (unik)
2. Easy spelling (mudah dieja)
3. Easy listening (mudah didengar)
4. Good meaning (punya arti positif)
Saat saya memberi nama GODHA INN sebagai brand komersil untuk guest house yang saya kembangkan dan saya pasarkan di Yogya, terus terang saja saya memakai pendekatan atas 4 kaidah tersebut. Saya menghindari vokal E karena vokal E sering dieja berbeda oleh banyak orang. Orang Batak dan orang Jawa bisa mengeja berbeda untuk vokal E.
GODHA INN artinya penginapan Godha. Jika dilafal dengan cepat akan berbunyi 'Godain'. Tapi gak pakai kata 'dong' alias 'Godain dong'. Saya memang tak mau pakai kata hotel karena menimbulkan level ekspektasi yang ketinggian di benak konsumen. Jika pakai nama 'guest house', saya kuatir banyak lidah yang terkilir karena susah ejaannya. Kalau kata INN, dijamin tak ada lidah yang keseleo karena keseleo lidah susah mencari tukang pijitnya.
GODHA INN gampang dieja, enak didengar. Juga unik karena konotasinya mirip kata 'godain' dalam bahasa Indonesia. Tapi huruf H dibelakang huruf D membuat kesan mirip bahasa Sansekerta. Padahal gak nyambung sama sekali kesana.
Maknanya juga bagus. GODHA adalah kepanjangan dari 'GOD Help Ari'. Jadi maknanya sangat dalam, bahwa Tuhan menolong Ari dalam mengelola bisnis guest house ini.
Wow, bagaimana dengan anda? Apakah anda menamai produk anda dengan brand kreasi anda atau membiarkan pihak lain menamainya sendiri sesuai selera mereka?
Menentukan Nama Brand
AriWibowoJinPoperti.blogspot.com - Makanan olahan dari bahan dasar singkong ada banyak macam. Umumnya berumur 3-4 hari. Nah, di distrik USA (Ungaran, Salatiga, Ambarawa) saat ini lagi ngetop yang namanya Getuk Kethek. Ini getuk dengan resep basic dan tradisional yang umurnya hanya 6 jam saja. Tak pakai pengawet, dan salah satu bahan dasarnya parutan kelapa yang cepat basi.
Getuk adalah makanan tradisional asal Jawa, terbuat dari singkong yang ditumbuk, lalu diramu dengan parutan kelapa dan gula. Warnanya putih singkong. Dicetak bentuk balok kecil-kecil. Satu doos isi 20 balok dijual harga Rp 9.000. Rasanya gurih manis, dijamin enak buat teman ngopi.
Yang bikin saya penasaran adalah kenapa namanya Getuk Kethek? Karena kethek itu artinya monyet alias kera. Padahal getuk adalah makanan manusia, bukan makanan monyet. Usut punya usut, rupanya getuk itu diproduksi di sebuah gang kecil di kota Salatiga, tepatnya dekat pertigaan ABC. Mereka sekedar jual getuk tradisional saja, tanpa bahan pengawet. Penjualan cuma jam 9 s/d 11 pagi, lalu dilanjut jam 15 s/d 17 sore. Diluar jam itu tak melayani penjualan. Sebenarnya mula-mula getuk itu dijual tanpa merk. Tapi orang-orang pasti perlu identitas untuk penamaan. Kebetulan si penjual getuk itu didepan warungnya memelihara monyet (kethek) yang dirantai di rumah-rumahan diatas pohon. Jadilah akhirnya orang menyebut nama Getuk Kethek.
Lambat laun nama getuk kethek makin ngetop di USA (Ungaran Salatiga Ambarawa) seiring dengan citarasanya yang disukai orang. Keunggulannya adalah 'kembali ke selera asal'. Tanpa zat pewarna, tanpa zat pengawet. Itu differensiasi yang sekaligus menjadi positioning getuk kethek di benak konsumen.
Saat pemilik mulai sadar kebutuhan penamaan atas getuknya, dia memberi nama Getuk Satu Rasa. Bahkan doosnya pun diberi merk Getuk Satu Rasa, tapi tetap saja orang dari mulut ke mulut terlanjur menyebutnya sebagai getuk kethek.
Sobat properti, kata Shakespeare; Apalah arti sebuah nama? Meski guru SD saya mengatakan bahwa nama adalah bunyi terindah bagi pemiliknya.
Jika anda tidak menamai produk anda, maka orang lain yang akan memberikan nama. Masih syukur kalau nama yang diberikan bagus. Kalau namanya jelek? Bisa-bisa pemiliknya senewen.
Saya sekarang dapat julukan sebagai JIN PROPERTI juga secara kebetulan dan itu pemberian julukan dari orang lain, bukan inisiatif saya. Karena sejarahnya dulu saya mengajar paket workshop dengan modul bernama KETEMU JIN PROPERTI.
Maksudnya adalah;
KEuangan
TEknik
Marketing
Umum
periJINan
PROPERTI
Nah, orang yang tidak paham bahwa itu adalah akronim, sering menelan secara harfiah bahwa workshopnya adalah ketemu JIN PROPERTI, dan yang jadi jin itu adalah saya sendiri. Wagu tenan ya? Saya lebih senang disebut mirip Sammy Simorangkir (Kerispatih) ketimbang disebut mirip jin yang bisa dimasukkan ke botol. Tapi siapa bisa memilih? Hahaha ...
Sobat properti, memberi nama untuk produk properti kita bukan hal mudah. Itu nampak sederhana, tapi sebenarnya sebuah BRAND NAME memberi kontribusi signifikan terhadap kesuksesan pemasaran produk. Menurut saya pribadi, pemberian nama (brand) harus memenuhi 4 kaidah sebagai berikut;
1. Unique (unik)
2. Easy spelling (mudah dieja)
3. Easy listening (mudah didengar)
4. Good meaning (punya arti positif)
Saat saya memberi nama GODHA INN sebagai brand komersil untuk guest house yang saya kembangkan dan saya pasarkan di Yogya, terus terang saja saya memakai pendekatan atas 4 kaidah tersebut. Saya menghindari vokal E karena vokal E sering dieja berbeda oleh banyak orang. Orang Batak dan orang Jawa bisa mengeja berbeda untuk vokal E.
GODHA INN artinya penginapan Godha. Jika dilafal dengan cepat akan berbunyi 'Godain'. Tapi gak pakai kata 'dong' alias 'Godain dong'. Saya memang tak mau pakai kata hotel karena menimbulkan level ekspektasi yang ketinggian di benak konsumen. Jika pakai nama 'guest house', saya kuatir banyak lidah yang terkilir karena susah ejaannya. Kalau kata INN, dijamin tak ada lidah yang keseleo karena keseleo lidah susah mencari tukang pijitnya.
GODHA INN gampang dieja, enak didengar. Juga unik karena konotasinya mirip kata 'godain' dalam bahasa Indonesia. Tapi huruf H dibelakang huruf D membuat kesan mirip bahasa Sansekerta. Padahal gak nyambung sama sekali kesana.
Maknanya juga bagus. GODHA adalah kepanjangan dari 'GOD Help Ari'. Jadi maknanya sangat dalam, bahwa Tuhan menolong Ari dalam mengelola bisnis guest house ini.
Wow, bagaimana dengan anda? Apakah anda menamai produk anda dengan brand kreasi anda atau membiarkan pihak lain menamainya sendiri sesuai selera mereka?
Minggu, 17 Juni 2012
JUANCUUUK TENAN !!!
JUANCUUUK TENAN !!!
Menjual Sensasi Pedas
AriWibowoJinProperti.blogspot.com - Usai mengajar workshop di Surabaya, panitya penyelenggara mengajak saya makan malam. Saya diberi pertanyaan seperti ini; "Pak Ari suka sensasi pedas apa tidak?". Saya jawab suka banget sih tidak, tapi doyan dan siap mencoba.
Akhirnya saya dibawa ke SPH (Surabaya Plaza Hotel). Saya pikir mau diajak kuliner di warung-warung tepi jalan, ternyata justru masuk ke hotel berbintang. Kami masuk ke restorannya. Pengunjungnya ramai, dan kebanyakan datang berombongan. Anehnya, semua menyantap menu yang sama, yaitu nasi goreng. Padahal disitu menjual aneka menu.
Rupanya menu paling top markotop disitu bernama NASI GORENG JANCUK. Satu porsi nasi goreng jancuk seharga Rp 98.000.-, dimana wujudnya berupa nasi goreng 1 wajan (penggorengan) kecil yang bisa disantap 5-7 orang, ditambah 1 pot es teh manis. Lauknya cuma rajangan telur goreng dan kerupuk. Rasanya sungguh pedas sepedas-pedasnya, sehingga siapapun yang makan akan megap-megap kepedasan, lalu berteriak; "Jancuuuuuuk tenan .. !!".
Sungguh, sensasi pedasnya benar-benar spesial. Dijamin perut anda mules dan panas. Dan anehnya, justru sensasi pedas ini yang jadi keunggulan serta DIFFERENSIASI dari restoran di SPH (Surabaya Plaza Hotel) tadi. Aneh ya?
Sobat properti, usai makan terus terang saya berpikir kenapa nasi goreng yang pedasnya minta ampun dan bikin lidah kalang kabut seperti itu bisa ngetop? Apakah benar KONTENnya yang kuat? Atau justru KONTEKSnya yang lebih kuat? Kontennya nasi goreng. Konteksnya restoran di hotel berbintang.
Jika bayar Rp 98.000 bisa makan minum 7 orang di restoran hotel berbintang, pastilah ini 'konteks' yang luar biasa. Kursinya empuk, AC nya dingin, ruangannya nyaman.
Dan dari raut muka yang saya rekam dari para pengunjung, mereka makan kepedasan tapi sambil haha hihi dan mukanya cerah. Tak jarang saya dapat kesan bahwa diantara satu rombongan mereka, setidaknya ada 1 atau 2 orang yang baru pertama kali diajak makan disitu, dan diperkenalkan sensasi pedas nasi goreng jancuk. Keberhasilan ngerjain orang sampai megap-megap kepedasan rupanya menjadi keasyikan tersendiri.
Jadi nasi goreng jancuk adalah potret kesuksesan menjual produk kuliner dengan mengkombinasikan KONTEN sensasi pedas dengan KONTEKS tempat yang nyaman.
Sobat properti, pelajaran yang bisa kita tarik adalah bahwa sebuah produk yang memiliki sesuatu yang khas, sesuatu yang berbeda dibanding produk sejenis lainnya, niscaya akan mendapat kesan di benak konsumennya. Terkadang yang khas itu agak nyeleneh (unik), tapi jika memberi manfaat bagi konsumen, pasti akan disukai.
Dengan pertimbangan bahwa manusia di jaman socmed (social media) ini suka narsis, maka saya punya ide di setiap unit guest house GODHA INN yang disewakan kepada umum nanti akan saya buatkan zona khusus yang saya namai FOTO CORNER. Disitu ada meja mimbar kecil dengan balutan batu alam, dimana didepan meja mimbar ada tulisan seperti ini;
Aku ning YOGYA
Kowe ning ngendi?
Bahkan mungkin akan saya buat dalam 2 versi bahasa lainnya.
Gue di YOGYA
Lo dimana?
I'm in YOGYA Indonesia
Where are you?
Foto Corner akan saya desain unik dan menarik, sehingga akan menggoda setiap orang untuk berpotret ria disitu, dan kemudian menjadikan foto disitu sebagai Profil Picture di BB, atau meng-uploadnya di facebook, twitter dll.
Nah, tanpa sadar saat mereka berfoto di mimbar, belakang mimbar adalah logo besar GODHA INN yang mau tak mau akan ikut terekam gambarnya dan dipublikasi gratis kemana-mana. Ini ide yang sederhana, tapi jika direspon dengan baik oleh naluri narsis para pengunjung, niscaya sensasi foto corner ini akan menjadi differensiasi kuat dari GODHA INN.
Saya tidak kuatir menuliskan ide ini, dan nanti dicuri idenya serta lebih dahulu diimplementasikan oleh pihak lain. Karena saya memiliki mental berkelimpahan dan suka membagikan ide kepada banyak orang supaya bermanfaat.
Jadi KONTEKS yang kuat berupa guest house modern dengan kualitas setara hotel bintang 3 tetapi bertarif miring, yang dikombinasi dengan KONTEN kenyamanan ruangan serta hal-hal unik seperti Foto Corner adalah daya tarik yang akan menjadi andalan kami memasarkan GODHA INN kepada wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung di kota Yogyakarta.
Anda ingin memiliki Guest House 5 atau 7 kamar di GODHA INN Yogya? Hubungi saja ; 087832511888 / 087731057888 / 0817174301.
Ada refund uang muka 100% dan jaminan sewa 24 bulan dengan harga menarik.
Menjual Sensasi Pedas
AriWibowoJinProperti.blogspot.com - Usai mengajar workshop di Surabaya, panitya penyelenggara mengajak saya makan malam. Saya diberi pertanyaan seperti ini; "Pak Ari suka sensasi pedas apa tidak?". Saya jawab suka banget sih tidak, tapi doyan dan siap mencoba.
Akhirnya saya dibawa ke SPH (Surabaya Plaza Hotel). Saya pikir mau diajak kuliner di warung-warung tepi jalan, ternyata justru masuk ke hotel berbintang. Kami masuk ke restorannya. Pengunjungnya ramai, dan kebanyakan datang berombongan. Anehnya, semua menyantap menu yang sama, yaitu nasi goreng. Padahal disitu menjual aneka menu.
Rupanya menu paling top markotop disitu bernama NASI GORENG JANCUK. Satu porsi nasi goreng jancuk seharga Rp 98.000.-, dimana wujudnya berupa nasi goreng 1 wajan (penggorengan) kecil yang bisa disantap 5-7 orang, ditambah 1 pot es teh manis. Lauknya cuma rajangan telur goreng dan kerupuk. Rasanya sungguh pedas sepedas-pedasnya, sehingga siapapun yang makan akan megap-megap kepedasan, lalu berteriak; "Jancuuuuuuk tenan .. !!".
Sungguh, sensasi pedasnya benar-benar spesial. Dijamin perut anda mules dan panas. Dan anehnya, justru sensasi pedas ini yang jadi keunggulan serta DIFFERENSIASI dari restoran di SPH (Surabaya Plaza Hotel) tadi. Aneh ya?
Sobat properti, usai makan terus terang saya berpikir kenapa nasi goreng yang pedasnya minta ampun dan bikin lidah kalang kabut seperti itu bisa ngetop? Apakah benar KONTENnya yang kuat? Atau justru KONTEKSnya yang lebih kuat? Kontennya nasi goreng. Konteksnya restoran di hotel berbintang.
Jika bayar Rp 98.000 bisa makan minum 7 orang di restoran hotel berbintang, pastilah ini 'konteks' yang luar biasa. Kursinya empuk, AC nya dingin, ruangannya nyaman.
Dan dari raut muka yang saya rekam dari para pengunjung, mereka makan kepedasan tapi sambil haha hihi dan mukanya cerah. Tak jarang saya dapat kesan bahwa diantara satu rombongan mereka, setidaknya ada 1 atau 2 orang yang baru pertama kali diajak makan disitu, dan diperkenalkan sensasi pedas nasi goreng jancuk. Keberhasilan ngerjain orang sampai megap-megap kepedasan rupanya menjadi keasyikan tersendiri.
Jadi nasi goreng jancuk adalah potret kesuksesan menjual produk kuliner dengan mengkombinasikan KONTEN sensasi pedas dengan KONTEKS tempat yang nyaman.
Sobat properti, pelajaran yang bisa kita tarik adalah bahwa sebuah produk yang memiliki sesuatu yang khas, sesuatu yang berbeda dibanding produk sejenis lainnya, niscaya akan mendapat kesan di benak konsumennya. Terkadang yang khas itu agak nyeleneh (unik), tapi jika memberi manfaat bagi konsumen, pasti akan disukai.
Dengan pertimbangan bahwa manusia di jaman socmed (social media) ini suka narsis, maka saya punya ide di setiap unit guest house GODHA INN yang disewakan kepada umum nanti akan saya buatkan zona khusus yang saya namai FOTO CORNER. Disitu ada meja mimbar kecil dengan balutan batu alam, dimana didepan meja mimbar ada tulisan seperti ini;
Aku ning YOGYA
Kowe ning ngendi?
Bahkan mungkin akan saya buat dalam 2 versi bahasa lainnya.
Gue di YOGYA
Lo dimana?
I'm in YOGYA Indonesia
Where are you?
Foto Corner akan saya desain unik dan menarik, sehingga akan menggoda setiap orang untuk berpotret ria disitu, dan kemudian menjadikan foto disitu sebagai Profil Picture di BB, atau meng-uploadnya di facebook, twitter dll.
Nah, tanpa sadar saat mereka berfoto di mimbar, belakang mimbar adalah logo besar GODHA INN yang mau tak mau akan ikut terekam gambarnya dan dipublikasi gratis kemana-mana. Ini ide yang sederhana, tapi jika direspon dengan baik oleh naluri narsis para pengunjung, niscaya sensasi foto corner ini akan menjadi differensiasi kuat dari GODHA INN.
Saya tidak kuatir menuliskan ide ini, dan nanti dicuri idenya serta lebih dahulu diimplementasikan oleh pihak lain. Karena saya memiliki mental berkelimpahan dan suka membagikan ide kepada banyak orang supaya bermanfaat.
Jadi KONTEKS yang kuat berupa guest house modern dengan kualitas setara hotel bintang 3 tetapi bertarif miring, yang dikombinasi dengan KONTEN kenyamanan ruangan serta hal-hal unik seperti Foto Corner adalah daya tarik yang akan menjadi andalan kami memasarkan GODHA INN kepada wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung di kota Yogyakarta.
Anda ingin memiliki Guest House 5 atau 7 kamar di GODHA INN Yogya? Hubungi saja ; 087832511888 / 087731057888 / 0817174301.
Ada refund uang muka 100% dan jaminan sewa 24 bulan dengan harga menarik.
Langganan:
Postingan (Atom)







