Rabu, 18 Juni 2014

SUDAH TERBIT!!! BUKU SOUP CHICKEN FOR THE DEVELOPER

BUKU #1 : 
JURUS PINTER MARKETING DEVELOPER


ALASAN MEMBELI BUKU INI

Buku ini berisi kumpulan artikel properti karya Jin Properti, khususnya yang berthema marketing, yang disajikan dalam bahasa yang renyah dan mudah dikunyah. Kontennya sebenarnya sangat berat, tapi cara bertutur Jin Properti yang ringan membuat siapapun mampu mencernanya dengan mudah. Artikel ini penuh konten properti, tapi yang membacanya bukan mengerutkan dahi melainkan justru bakal sering tersenyum simpul karena teknik analogi yang dipakai Jin Properti banyak kadar humornya.

Setiap artikel berisi jurus-jurus pemasaran yang ampuh dan terbukti sudah mampu membukukan ribuan transaksi di puluhan proyek properti yang pernah dikembangkan oleh Jin Properti di berbagai kota. Bukan jurus biasa, tapi ini jurus-jurus pemasaran yang hanya bisa keluar dari otak berkapasitas 500 cc dan berani berpikir ‘out of box’ ala Jin Properti. Jika anda menduplikasi jurus-jurus ini, jangan kaget jika mendadak sales force anda banyak closing dan omset membumbung tinggi.

Jurus yang dipaparkan dalam artikel ini sangat aplikatif untuk memasarkan berbagai produk properti, mulai dari rumah murah, real estate sampai dengan apartemen dan condotel. Bahkan seorang marketing manager junior yang baru masuk ke bisnis properti, dengan membaca buku ini mendadak sontak level kompetensinya langsung sudah setara dengan marketing manager berpengalaman.


Anda rugi besar jika tidak membeli dan membaca buku ini, karena di republik ini anda tidak akan menemukan buku properti lain yang berisi ide-ide unik dan super kreatif seperti buku karya Jin Properti ini.

Harga Buku Rp. 85.000 + ongkos kirim (dari Yogya)

Transfer ke : Mandiri cab. Ungaran A/C 136 - 0013399479, a/n Ari Wibowo
Konfirmasi ke : sdr. Restu, HP 0878 - 39810855 / PIN 74DA3C90

Selasa, 17 Juni 2014

WORKSHOP PROPERTI 20 - 21 JUNI 2014 DI YOGYAKARTA

KISAH NYATA : MEMILIKI LAHAN 2,5 HEKTAR DENGAN MODAL 13 JUTA

BENEFIT BUAT PESERTA WORKSHOP 20- 21 JUNI 2014
Ditawari paket hanya bermodal 800 ribuan/bulan sudah memiliki lahan sendiri dan siap praktek langsung sebagai developer dibawah bimbingan Jin Properti.




Banyak orang yang berani buka kelas seminar dan workshop berlabel PROPERTI, padahal modalnya hanya pernah mengerjakan 1 - 2 proyek properti, ditambah skill yang mumpuni di bidang public speaking. Guna menambah kekayaan menu yang disajikan ke peserta workshop, biasanya kulakan dari trainer lain dan kemudian materinya dimodifikasi supaya tidak persis sama dengan materi aslinya. Trainer model beginian lagi menjamur saat ini ..

Anehnya, dalam sebulan bisa buka kelas workshop dari kota ke kota sebanyak 2 s/d 4x. Lalu kapan mereka itu mengurus proyek propertinya? Jangan-jangan mereka ini memang pengusaha seminar dan workshop, bukan pengusaha properti. Jangan-jangan bisnis utamanya justru sebagai pengusaha seminar dan workshop, sedangkan bisnis properti hanya sebagai sambilan saja sebagai kedok, hahaha ...

ARI WIBOWO (AW) yang di jagad dunia maya dikenal sebagai JIN PROPERTI alias Suhu di PERGURUAN KUNGFU PROPERTI, adalah Instruktur Properti dengan jam terbang selama 20 tahun (sejak 1994), dan bahkan saat ini secara bersamaan sedang mengembangkan proyek properti sejumlah 17 lokasi di berbagai kota, dengan basis utama di Yogyakarta. Kedalaman ilmunya di bisnis properti jangan diragukan lagi, karena AW pernah mengembangkan proyek perumahan kelas RSH (rumah sederhana) sampai dengan properti mahal berharga milyaran Rupiah.

Banyak calon peserta yang bertanya-tanya kapan AW membuka kelas properti lagi, akan tetapi dengan kesibukannya yang sangat padat, di tahun 2014 ini AW hanya bisa membuka kelas properti setahun 3 atau 4x saja. Salah satunya akan digelar dalam waktu dekat, yaitu pada tanggal 20 - 21 Juni 2014 bertempat di Hotel HORISON Yogyakarta. Ini kelas PRIVATE dengan jumlah peserta dibatasi maksimal hanya 20 orang peserta saja. Dan materi bombastis yang akan dibagikan dalam workshop kali ini adalah kisah nyata bagaimana AW bermodal uang 13 juta mampu memiliki (sertipikat dibalik nama, bukan sekedar kerjasama) lahan seluas 2,5 hektar di kota Semarang, yang memiliki potensi laba 4,5 Milyar. Luar biasa!!! Potensi labanya lebih dari 30.000%

Selain berbagi pengalaman bombastis tersebut, tentu saja AW akan mengajarkan konten standar kepada peserta workshop, yaitu bagaimana CARA MEMULAI DAN MENJALANKAN BISNIS PROPERTI DENGAN MODAL CEKAK. AW bukan sekedar bercerita kisah orang lain, akan tetapi AW akan menceritakan pengalamannya sendiri. Salah satunya adalah bagaimana dalam 1 bulan AW mengeksekusi 7 proyek properti dengan modal orang lain, akan tetapi dirinya memiliki saham goodwill antara 35 s/d 50%. Ini sangat spektakuler.

Sebentar lagi Lebaran tiba, dan ini adalah momentum dimana banyak orang yang dikejar kebutuhan konsumtifnya akan rela melepaskan aset tanahnya dengan skim bayar lunak dan harga miring. Jika anda sudah belajar jurus-jurus ala JIN PROPERTI, siapa tahu anda bakal mendapatkan opportunity dan rejeki.

Investasi : Rp. 5.000.000,- (bayar hari H)
Early Bird : Rp. 3.500.000,- jika daftar sebelum hari H
Bayar 50% saat mendaftarkan diri, sisanya H-3 sebelum pelaksanaan.

Disetor ke : ARI WIBOWO 
Bank Mandiri KCP Ungaran Semarang, A/C 136-00-1339947-9
Konfirmasi ke : 0878 - 38804580 / 29C4209C

Free penginapan 2 malam di GODHA INN (NginapHemat.com)
Bonus buku SOUP CHICKEN For The DEVELOPER

Berminat jadi PENGUSAHA PROPERTI? Segera daftarkan diri anda.
Berminat jadi PENGUSAHA SEMINAR? Jangan mendaftar kesini ...

Selasa, 03 Juni 2014

HOREEE, ANAK SAYA DITERIMA DI UGM

JANGAN UNDANG ORANG DATANG KENDURI
JIKA TUAN RUMAH BELUM BERSIAP DIRI


Pernah lihat orang yang punya hajat kenduri? Misalnya mereka sedang syukuran karena habis naik pangkat atau anaknya habis diterima di perguruan tinggi negeri. Itu adalah berkat yang pantas disyukuri.

"Horeeee, anak saya diterima di UGM!!" Begitu broadcast dari seorang teman.

Saya diundang acara syukuran seorang teman yang anaknya diterima di UGM jurusan akutansi S1 lewat jalur tanpa test. Di BBM disebutkan hari Jumat tanggal 30 Mei 2014 jam 18.30. Karena yang mengundang adalah teman baik saya, maka sayapun berniat memenuhi undangannya.

Pada hari H, saya datang on time, yaitu jam 18.25 sudah sampai didepan rumahnya. Sudah menjelang petang. Herannya, lampu teras rumah masih gelap. Tak ada tenda di halaman rumah, mungkin hanya mengundang kalangan terbatas saja. Tak ada barisan kursi-kursi yang ditata rapi sebagaimana layaknya sebuah pesta syukuran. Tak ada meja berisi makanan dan minuman siap hidang untuk para tamu. Saya jadi berpikir, ini beneran ada pesta atau tidak sih??

Saya telpon pihak tuan rumah. Alamaak, dia malah ngaku kalau sedang berada di toko cattering mengambil makanan dan snack yang akan disajikan di acara pesta syukuran. Semua anggota keluarganya ikut ke toko cattering dan memang rumah masih kosong. Sambil ketawa dia berkata kalau gak nyangka saya bakal datang on time. “Orang jawa biasanya jam karet. Kalau undangan jam 18.30, datangnya jam 19.30. Jadi memang sengaja diajukan 1 jam undangannya, hahaha ..” begitu kata si tuan rumah. Dia meminta saya menunggu dulu barang 15 menit, katanya dia berada tak jauh dari rumah.

Apakah saya mau menunggu di teras rumah dengan lampu yang masih belum dinyalakan? Tidak!!! Saya memilih pergi dan pulang ke rumah saja, tak mau balik kesitu lagi. Malas menunggu tuan rumah datang. Kagak niat adakan pesta nih. Lha tamunya sudah datang, malah tuan rumahnya pergi dan di rumah belum siap apa-apa. Padahal andai saja teras rumah sudah dinyalakan lampunya, kursi sudah ditata rapi, dan sudah ada segelas teh panas yang dihidangkan, menunggu 15 menit saya tak akan keberatan.

Sobat properti, pelajaran dari kasus diatas adalah bahwa jika anda mau mengundang orang untuk pesta hajatan di rumah anda, sebaiknya pastikan dulu anda sudah bersiap menjadi tuan rumah yang baik. Pintu pagar sudah dibuka, meja kursi sudah ditata, makanan sudah matang dan siap dihidangkan. Syukur-syukur anda setel musik dangdut dengan irama yang asoy geboy .... Semua tamu akan bersukacita di pesta anda.

Sobat properti, di bulan Maret dan April, pemasaran di proyek properti di Yogya yang saya pasarkan kurang memuaskan hasilnya. Padahal promosi yang kami lakukan sudah gencar dan terbukti mampu menarik minat konsumen. Dari hasil evaluasi bersama sales force, dan juga merujuk ke buku prospek, dalam tiap bulan setidaknya ada 70 konsumen yang berkunjung ke lokasi. Itu bukan jumlah yang sedikit untuk proyek kami yang memasarkan rumah kelas menengah dengan harga minimal 700 jutaan.

Herannya, closing jadi barang yang mahal. Yang ada cuma report berupa foto-foto sales yang sedang mendampingi konsumen melakukan kunjungan lokasi. Oh ya, tiap sales yang upload foto sedang survei lokasi bersama konsumen, biasanya saya beri fee Rp. 25.000. Tak besar nilainya, tapi ini adalah doktrin yang sengaja saya tanamkan ke benak sales bahwa “konsumen jangan disebut prospek jika belum berkunjung ke lokasi”. Tanpa kunjungan lokasi, kemungkinan closing adalah zero. Jadi seorang sales yang berhasil membawa konsumen survei lokasi layak diberi penghargaan, meski hanya sebesar Rp. 25.000. Lumayan buat ganti uang bensin.

Di bulan Mei, penjualan kami sudah membaik. Satu bulan mampu closing 8 unit, dengan omset 7,5 milyar. Luar biasa, ini baru mantap. Hasil evaluasi kami menyimpulkan bahwa prospek yang closing di bulan Mei rata-rata bisa cepat mengambil keputusan setelah melihat progres bangunan kami di lapangan sudah nampak meyakinkan, diatas 40%. Infrastruktur juga sebagian sudah selesai, yaitu jalan, saluran dan pagar keliling. Berbeda dengan 2 bulan sebelumnya yang kondisi masih acak-acakan, dan belum menarik secara visual.

Ada FAKTA UNIK : ketika saya menanyakan apakah yang closing di bulan Mei adalah prospek yang namanya ada di data base bulan Maret dan April? Jawabannya tidak. Semua adalah prospek di bulan Mei yang closing juga di bulan Mei. Saya memerintahkan sales untuk mengontak ulang dan membujuk konsumen (Maret dan April) agar bersedia mengulang kunjungan lokasi lagi. Dan hasilnya ternyata rata-rata mereka malas mengulangnya. Mungkin di benak mereka merasa sudah ada bayangan visual mengenai proyek kita, meski itu kondisi 2 bulan yang lalu ketika proyek masih berantakan. Celakanya bayangan itulah yang membuat mereka mengambil keputusan untuk tidak membeli.

Sobat properti, pelajaran yang bisa diambil dari analogi diatas adalah; sebaiknya kita jangan mengirim undangan pesta sebelum memastikan bahwa kita sebagai tuan rumah sudah siap segalanya. Lihat pengalaman saya diatas, yang begitu tahu bahwa tuan rumah belum siap, saya langsung pergi dan tak mau kembali.

Dari puluhan pengalaman saya di berbagai kota saat mengembangkan proyek properti sekaligus memasarkannya, memang saya termasuk aliran yang memilih bahwa pemasaran yang dimulai sejak dini adalah sesuatu hal yang bagus. Begitu duit sudah keluar berarti argo kita sudah jalan. Tak mungkin kita hanya melihat uang mengalir keluar tanpa berusaha agar ada uang mengalir masuk. Pemasaran pasti langsung dilakukan, meski kondisi lahan baru saja dibebaskan dan masih berupa semak padang ilalang.

Tapi pelajaran yang perlu saya tegaskan melalui artikel ini adalah sebagai berikut ;

1. Pemasaran boleh dilakukan sejak awal (saat proses perencanaan dan perijinan sedang dijalankan), akan tetapi tidak boleh memakan biaya promosi yang besar. Cukup ala kadarnya saja, buat pemanasan (warming up) sales force kita. Ini ibarat soft launching.

      2. Segera kebut pekerjaan infrastruktur dan rumah contoh di proyek anda, sehingga disaat konsumen datang nanti, secara visual ada progres yang bisa dilihat oleh konsumen dan menarik hati mereka.

     3. Setelah progres fisik di lapangan sudah cukup menjanjikan, barulah beriklan secara signifikan, dan meningkatkan intensitas pemasaran lebih gencar lagi guna mengundang banyak prospek berkunjung ke proyek yang kita pasarkan.

4. Progres fisik yang secara visual menarik, membuat potensi closing dari konsumen lebih besar. Karena mereka tak hanya sekedar melihat janji didalam brosur, melainkan sudah melihat buktinya scara nyata di lapangan.

Oke sobat? Saya menutup artikel ini dengan quote bahwa "Jangan mengundang orang datang kenduri jika tuan rumah belum mempersiapkan diri."

Anda semua pembaca artikel ini, diundang untuk mengikuti acara Workshop Properti berlabel CARA GAMPANG JADI PENGEMBANG tgl 20 - 21 Juni 2014 di Yogyakarta. Info lengkap lihat artikel sebelumnya di blog ini.

Kamis, 22 Mei 2014

JUAL KAVLING SIAP BANGUN DI TENGAH KOTA SEMARANG

HARGA MULAI 650.000/M2
Infrastruktur :
PAVING BLOCK + GORONG-GORONG 






Kami bukan menjual KAVLING SIAP BANGUN biasa, karena kami menjual kavling siap bangun dalam kondisi JALAN LEBAR (ROW 6 dan 7 meter) dan akan dilengkapi infrastruktur JALAN PAVING serta GORONG-GORONG dibawah tanah yang berfungsi sebagai saluran drainase. Sementara pedagang kavling lain, umumnya hanya memberikan jalan lebar 5 atau 6 meter dan tanpa infrastruktur apapun.

Kami bukan menjual KAVLING SIAP BANGUN biasa, karena lokasi kami benar-benar di pusat kota Semarang, tepatnya di daerah Ngaliyan yang sangat padat dengan penduduk, dikepung berbagai fasilitas sosial (sekolah, rumah sakit, bank, pusat perbelanjaan, universitas, dll).

Koordinat lokasi :
Lokasi di S 06˚59.383' E110 ˚19.261'

Akses menuju lokasi ada 2 sbb:

Hanya 1 KM dari jalan raya Semarang - Jakarta, masuk dari jln Wonosari (persis sebelah SMAN 8 Semarang).

Bisa dari jalan raya Semarang - Boja (menuju BSB), ada di KM 2 (kanan jalan). Setelah melewati pusat pertokoan Ngaliyan Square, naik lagi 500 m, sampai ketemu jln Beringin Raya (persis sebelah pool Damri lama), belok kanan. Lokasi nempel dengan perumahan Beringin Lestari yg sangat padat.

Kami memasarkan KAVLING SIAP BANGUN dengan harga jual mulai Rp. 650.000,-/m2 (enamratus limapuluh ribu Rupiah per meter persegi). Pembayaran bisa secara tunai keras, tunai bertahap, ataupun membayar UM 40% dan sisanya melalui kredit pemilikan lahan.

Kami memasarkan kavling siap bangun dalam II tahap, dimana tahap I kami memasarkan sejumlah 28 bidang kavling, dan tahap II kami memasarkan sejumlah 47 bidang kavling.

Berminat ? Ini adalah daftar harga jual lengkap ....




KETERANGAN :

Harga belum termasuk biaya PPJB Notariil, AJB PPAT, biaya pemecahan dan balik nama SHM, BPHTB, serta biaya akad kredit bagi yang melunasi dengan pembiayaan bank

Diskon Tunai Keras (lunas 100% dalam 2 minggu = 5%
Diskon Tunai Bertahap (dibagi rata 5 bulan) = 2,5%

Uang pilih kavling hanya Rp. 500.000,- saja

Pembelian bisa melalui sales siapa saja. Tapi pembayaran hanya sah apabila anda menyetor/mentransfer ke rekening pemilik lahan, yaitu ;

ARI WIBOWO, Bank Mandiri Cabang Ungaran,
nomor rekening (A/C) 136-00-1339947-9

Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi :
ALI ( 0853 - 858 33 777  / 0857 - 138 68 777 )


KARIN ( 0822 - 2026 2966 )

Kamis, 01 Mei 2014

MEMBUAT EXECUTIVE SUMMARY DALAM PROPOSAL PROYEK PROPERTI

BUKAN PROPOSAL KAMBING


Pak AW, apakah saya bisa bertemu? Saya punya penawaran menarik buat bapak.

Penawaran apa? Lahan untuk kerjasama atau bagaimana? Kalau hanya penawaran tanah untuk dibeli putus, maaf lho saya tidak berminat. Saya maunya ditawari opportunity, bukan ditawari tanah.

Beres pak, kutahu yang bapak mau ........ (malah jawabnya kayak iklan soft drink)

Esoknya seseorang yang bernama mas Roni tersebut datang ke kantor saya dengan bapaknya dan istrinya dan anaknya. Lho, ini mau kondangan apa bicara bisnis koq datang rame-rame seperti ini ke kantor saya.

Rupanya mereka ini menawarkan sebuah kerjasama pengembangan proyek. Katanya sudah dapat lahan kerjasama yang bisa dibangun jadi 18 kavling (tapi tidak menunjukkan siteplannya). Katanya sudah laku terjual 9 unit alias separohnya (tapi tidak menunjukkan brosurnya, padahal memasarkan pasti pakai brosur). 


Mereka mengeluarkan selembar kertas berisi perincian singkat yang kalau tak salah ingat bunyinya seperti ini (maklum dibawa balik kembali) :

Harga Jual T-45/84 = Rp. 340.000.000
Jumlah Rumah = 18 unit
Nilai Omset = Rp. 6.120.000.000

Laba Per Unit = Rp. 75.000.000

Laba Total = Rp. 1.350.000.000

Kebutuhan Modal = Rp. 1.000.000.000


Pembagian Laba

Laba Pengelola (80%) = Rp. 1.080.000.000
Laba Pemodal (20%) = Rp. 270.000.000

Rupanya mereka menawarkan kepada saya untuk menjadi pemodal di proyek mereka, dengan menyertakan modal 1 milyar selama 12 bulan, dengan hasil senilai 270 juta. Katanya laba ini sangat menarik, karena 3x dibanding bunga deposito, bahkan yang ini sudah nett tanpa dipotong pajak. Mereka siap menanda-tangani perjanjian kerjasama yang dibuat secara notariil.

Hehehe ..., saya hampir tak bisa menahan senyum mendengar presentasi mas Roni yang sangat enerjik dan berapi-api itu. Saya suka dengan gayanya, tapi maaf kalau menawarkan return of investement dengan komparasi bunga deposito, kayaknya bukan tempatnya deh. Penawaran seperti itu hanya berlaku bagi mereka yang punya banyak duit, tapi tidak tahu bagaimana memutar uangnya dalam sebuah bisnis riil. Sedangkan saya ini arranger proyek merangkap profesional di bisnis properti yang punya skill untuk memutar modal dengan target laba yang sangat-sangat tinggi. Jadi maaf 27% setahun bakal saya pandang sebelah mata.

Saya sampaikan kepada mas Roni bahwa buat saya sebuah proyek baru dianggap layak jika memenuhi KAIDAH 1:2:3, yaitu : MODAL 1 / DAPAT LABA 2 / DALAM WAKTU 3 TAHUN. Artinya modal 1 milyar harus dapat laba 2 milyar dalam waktu 3 tahun. jadi target laba pertahunnya adalah 65%. Tanpa memenuhi kaidah 1:2:3, dianggap proyek tidak layak (not feasible) untuk dieksekusi.

"Waduh..., tinggi sekali. Lalu kami yang capek-capek kerja dapat bagiannya tidak banyak dong?", komplain mas Roni.


Saya jelaskan bahwa selama tanah tidak harus membayar lunas (beli kontan) dan hanya membayar maksimal 20% saja dari harga tanah, maka rasio modal terhadap laba dijamin tinggi sekali. Jadi kalau labanya tinggi, meskipun harus membagi kepada pemodal masih tetap ada sisa yang lumayan besar untuk dinikmati oleh profesional yang mengelolanya.

Muka mas Roni nampak buram mendengar penjelasan dari saya. Tapi saya tidak peduli, malah saya teruskan kritikan (tepatnya masukan) kepada dia. Saya jelaskan bahwa kalau mau menawarkan sebuah proyek kepada investor, syarat dasarnya ada 2, yaitu ;

1. LABA INVESTASI MENARIK
2. INVESTASI AMAN KARENA MENGIKAT KEPADA ASET TANAH

Laba 27% tidak menarik, harus bisa memberikan target laba minimal 65% setahun. Kenapa setinggi itu? Karena yang namanya target itu bisa meleset, jadi kalau targetnya saja sudah rendah kalau meleset ya makin rendah. Dan orang yang punya duit sebesar itu pastinya adalah orang tajir yang mungkin juga mampu memutar uangnya didalam bisnis riil, bukan sekedar ditempatkan dalam bentuk deposito. Jadi jika iming-imingnya kurang menarik, tak bakal membuat mereka bersedia menjadi pemodal proyek kita.

Investasi ratusan juta atau milyaran tentunya harus memberikan rasa aman kepada investor. Jika sabuk pengaman itu hanya berupa perjanjian secara notariil, apalah artinya? Itu hanya selembar kertas yang tidak mengamankan apapun uang investor. Jurus paling jitu adalah nama investor harus mengikat ke aset tanah, misalnya ;

1. Tanah dibalik nama ke investor tetapi dilakukan pengakuan hutang kepada pemilik tanah.
2. Tanah dibalik nama ke PT baru (gabungan antara investor + pemilik tanah + pengelola) dan dilakukan pengakuan hutang kepada pemilik tanah.
3. Investor seolah menjadi pembeli atas sekian unit kavling dengan luasan tertentu (kasusnya kalau yang dikembangkan adalah proyek yang sertipikat pecahan sudah ada).

Baca dan cari artikel berjudul JURUS KADAL BUNTUNG di blog ini.

Yang paling pedas adalah; saya katakan bagaimana mungkin anda mau meminta orang memodali proyek anda dengan investasi senilai 1 milyar, tapi materi presentasinya asal-asalan? Hanya selembar kertas yang tidak cukup informatif dan tidak meyakinkan sama sekali. Mestinya bawa ACTION PLAN atau BUSINESS PLAN yang informatif. Ada gambar site plan nya, ada hitung-hitungannya. Mulai dari HPT (harga pokok tanah) sampai dengan harga jualnya. Kemudian bisa menyebut laba per unit Rp 70 juta itu angkanya berasal dari mana? Bukan muncul begitu saja tanpa dasar yang jelas.

Lha mahasiswa yang sekedar minta bantuan kambing seekor buat Idul Adha di masjid saja proposalnya bagus dan rapi koq (dijilid rapi, cover warna, konten beberapa lembar). Ini mau minta investasi 1 milyar koq hanya pakai kertas selembar dengan informasi yang ala kadarnya. Kalah sama proposal minta bantuan kambing. Dan sepertinya dia belum tahu kalau saya itu juga menjalankan peran yang sama dengan dia, yaitu jadi arranger proyek. Tapi business plan buatan saya tak sesimpel itu deh, hahahaha ....... 

Andaikata saya hanya maju ke investor dengan 1 lembar kertas, maka selembar business plan itu adalah berupa EXECUTIVE SUMMARY seperti contoh dibawah ini :


Apa yang ada di otak investor saya tahu persis, yaitu ada 3 hal dibawah ini ;

1. Berapa MODAL yang harus ditanam?
2. Berapa lama UMUR PROYEK?
3. Berapa LABA yang menjadi bagian investor?

Jadai 3 hal pokok tersebut harus ada dalam lembaran paling depan di EXECUTIVE SUMMARY. Karena yang namanya INVESTOR, hakekatnya adalah melakukan INVESTASI, dan INVESTASI menurut saya adalah "Rasio Modal Terhadap Laba Dan terhadap Waktu". Jika secara investasi menarik,selanjutnya investor atau pemodal akan menanyakan penjelasan secara detail darimana kita mendapatkan angka-angka tersebut, yang bisa kita paparkan dalam sebuah ACTION PLAN lengkap dan detail.

Note : Cara membuat ACTION PLAN diajarkan didalam workshop KETEMU JIN PROPERTI

Sobat properti, pelajaran terpenting dalam artikel ini adalah bahwa jika anda mau melakukan preentasi kepada calon investor, seharusnya membuat BUSINESS PLAN yang informatif dengan konten utama menunjukkan bahwa return of investmen yang dinikmati oleh investor haruslah menarik, Sajikan dalam berkas presentasi yang meskipun singkat padat tapi kemasannya profesional.


Syukur-syukur anda sudah mampu menyajikan ACTION PLAN dengan halaman terdepan berupa Executive Summary seperti contoh diatas, tentunya lebih mudah bagi anda untuk meyakinkan calon investor.
Ayo, upgrade skill anda ....

ORANG SUSAH DILARANG CEREWET

STRATEGI MENJUAL RUMAH MURAH



Dulu rumah luasan kecil type 21 atau 36 disebut sebagai RSS (rumah sangat sederhana). Perkembangan berikutnya dikoreksi menjadi RSH (rumah sederhana). Tapi akibat AMPHAS (asosiasi masyarakat pemilik hunian sempit) melakukan komplain dan minta diberi sebutan yang lebih manusiawi, sekarang pemerintah menyebutnya dengan istilah RST (rumah sejahtera tapak).

Mau diberi sebutan apapun dan sebagus apapun, substansinya tetap saja rumahnya berukuran sempit, kalau bukan T-21 ya T-36. Mau didesain arsitek lulusan UNDIP atau STM tidak tamat, tetap saja munculnya bangunan 1 kamar atau 2 kamar, dengan penempatan KM/WC dibelakang kamar atau diapit 2 kamar. Tak bisa lebih dari itu.

Saya pernah mengembangkan perumahan sederhana di Karawang, Purwakarta, Bogor, Jepara, Sukabumi, dan saat ini di Rajeg Tangerang. Bahkan yang di Dermaga Bogor luasnya 19 ha dengan jumlah rumah 1113 unit. Jadi kalau saat ini ingin berbagi pengalaman soal memasarkan dan membangun RST, ya semoga saja ada yang mau dengar, karena pengalaman empiris saya soal ini lumayan mencukupi.

Sobat properti, jika anda membangun RST, maka jurus yang paling manjur dan bisa diandalkan adalah COST LEADERSHIP, yaitu menjual rumah dengan harga lebih murah dibanding harga kompetitor, akan tetapi dengan level benefit yang sama.
Misal ; pesaing menjual T-36/72 seharga Rp 88 juta, maka jika anda menjual type yang sama seharga Rp 85 juta, maka itu adalah sebuah competitive advantage yang mampu membuat konsumen berpaling ke produk anda. Konsumen di segmen ini sangat 'sensitif' terhadap isue harga. Beda harga sedikit saja mampu membuat mereka memilih produk anda.

Membandingkan harga produk tentunya harus dengan level benefit yang sama. Jangan sampai anda mengklaim harga jual lebih murah dengan spec dinding batako, sementara pesaing memakai bata merah. Jika sama-sama bata merah tetapi harga produk anda lebih murah, barulah itu bisa disebut produk anda memiliki keunggulan kompetitif.

Jika saya meyakini bahwa harga jual yang murah adalah jurus paling jitu memasarkan RST, maka di artikel ini sekalian saya ingin berbagi kepada anda tentang bagaimana mereduksi harga bangunan agar lebih hemat dan efisien.

Paradigma penting yang harus dipakai adalah "Jangan memakai kacamata anda untuk melihat produk RST". Konsumen RST tidak berada di level yang sama dengan anda. Mereka hanya berada di zona NEED (kebutuhan), bukan WANT (keinginan) apalagi EXPECTATION (harapan). Mereka kelompok konsumen yang asal punya rumah sudah bersyukur, karena bisa berteduh dari hujan dan terhindar dari panas terik matahari. Bukan seperti anda yang lihat acian tembok kasar sedikit sudah ngomel-ngomel. Mereka kelompok konsumen yang melihat warna cat memudar di bulan ke 6 tenang-tenang saja. Tak seperti anda yang cerewet soal hal ini dan langsung komplain ke pengembangnya melihat warna cat nya sudah memudar.

Kelompok konsumen RSH tak banyak menuntut. Mereka sadar bahwa orang susah seperti mereka tak boleh cerewet, hahaha ... Isinya hanyalah bersyukur dan bersyukur, bahwa dibalik kesusahan mereka, ada pihak yang membantu mengupayakan mereka memiliki sebuah rumah.

Sobat properti, meski tak pernah memiliki sertifikat profesi dari IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), saya adalah sarjana arsitektur lulusan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Saya mendesain sebuah rumah kelas RST yang biaya konstruksinya sangat murah. Tahun 2013, saya mengerjakan bangunan ini dengan harga borongan Rp 1.000.000/m2 di Jepara. Dan awal 2014 mengerjakan bangunan ini dengan harga borongan Rp 1.100.000/m2 di Sukabumi.

Filosofinya ada 2 hal pokok ;

A. Hindari Pemakaian Atap Genting


Genting adalah jenis material penutup atap yang berat. Sehingga konstruksinyapun mahal, harus ada gording, kasau dan reng. Saat ini banyak yang memilih cara praktis dengan memakai rangka atap baja ringan. Tetap saja biayanya mahal, karena penutup atapnya berupa genting yang terbuat dari material beton. Meski kita memilih kualitas genting beton yang rendah, harganya tetaplah mahal.

B. Hindari Bidang Dinding Yang Terlalu Banyak Tekukan

Setiap tekukan dinding akan membawa konsekwensi terjadinya penambahan kolom praktis, dan yang namanya kolom pasti mengandung unsur besi dan beton, yang membuat biaya konstruksi menjadi bengkak. Jika dalam bidang dinding selebar 6 m tanpa ada tekukan, mungkin hanya diperlukan 3 kolom struktur saja. Tapi jika ada tekukan, bisa-bisa harus menambah 1 atau 2 kolom praktis. Jika setiap kolom praktis setinggi 325 cm mengandung besi dan beton, hitung saja berapa pembengkakan biaya yang timbul.

SOLUSI dan APLIKASI


Buatlah desain tampak bangunan yang tidak memakai penutup atap berbahan genting. Tampak depan cukup bidang dinding saja yang diolah dengan sedikit aksentuasi penebalan dan permainan warna cat saja. Atap dibuat 1 kemiringan ke belakang, jangan model pelana yang memakai bubungan. Pakai atap galvalum alias spandek yang ringan dan murah rangka konstruksinya. Tak perlu pakai kuda-kuda apalagi rangka atap baja. Hanya gording beberapa batang berupa baja canal C yang melintang dengan bertumpu di gunungan dinding (lihat gambar). Ini membuat biaya konstruksi menjadi lebih murah.



Kekurangan dari pemilihan material atap spandek atau galvalum ini adalah jika terjadi hujan lebat, maka suaranya bakal pletok-pletok keras sekali. Tapi sekeras-kerasnya bunyi hujan menimpa atap. Yang penting air hujannya tidak bocor masuk ke kamar. Namanya saja rumah murah, pasti penghuninya (maaf) orang susah. Dan aturan mainnya adalah bahwa orang susah dilarang cerewet apalagi komplain. Kondisi yang ada harus diterima dan disyukuri. Punya rumah tidak bocor saja seharusnya disyukuri.

Denah dibuat kotak tanpa banyak tekukan. Jika kita mendesain type 36, buat saja bangunan 6 x 6. Jika membuat type 21, buat saja 6 x 3,5. Rumah murah dindingnya harus 1/2 bata alias dinding kongsi. Jadi 1 dinding dipakai bersama untuk kanan dan kiri. Ada resiko suara tetangga bakal terdengar dan tembus. Tapi namanya orang susah dengan rumah type kecil aturannya adalah dilarang cerewet apalagi komplain. Kondisi yang ada harus diterima dan disyukuri, hahhaa ..


note : artikel ini belum tuntas, nanti akan diunggah contoh denah dan juga potongannya

Kamis, 24 April 2014

RAYUAN WTS ASAL SURABAYA

SUSI, WTS YANG TERJUN KE BISNIS PROPERTI


Di sebuah sore yang teduh karena habis turun hujan gerimis, ada telepon masuk dari seorang wanita yang suaranya mendesah manja.

"Hallo pak AW, apa kabar? Masih ingat saya? Saya Susi, WTS yang pernah ikut workshop pak AW di Surabaya dulu. Semoga pak AW sehat-sehat selalu ..."

"Apa??? WTS???" Saya kaget mendengar pengakuannya. 

"Hihihi .... Iya, pak AW, saya Susi murid pak AW. Benar saya memang WTS alias Wanita Teknik Sipil asal Surabaya, yang benar-benar punya obsesi jadi pengusaha properti. Sejak ikut workshop pak AW, disela-sela kesibukan saya sebagai karyawan di perusahaan kontraktor saya sering hunting tanah disana-sini, dan alhamdullilah ini sudah ada hot deal ....", kata Susi.

Hahahahaha ....., saya sampai berdegup kencang jantungnya karena ditelpon seorang WTS, eh ternyata kepanjangan dari Wanita Teknik Sipil. Artinya dia itu Sarjana Teknik jurusan Teknik Sipil. Saya lupa-lupa ingat Susi yang mana, karena memang saya adakan workshop CARA GAMPANG JADI PENGEMBANG sudah puluhan kali di berbagai kota, dan total akumulasi pesertanya (muridnya) mungkin sudah melebihi jumlah 1000 orang. Jadi kalau soal nama tak mungkin ingat, tapi kalau ketemu muka, setidaknya saya masih ingat.

Kemudian Susi bercerita bahwa apa yang pernah saya jelaskan di workshop hampir benar semua di lapangan, terutama dalam usahanya mencari lahan hot deal. Ada kisaran 50 lahan di 50 lokasi yang sudah dia survei, sudah ketemu dan negosiasi dengan pemiliknya, dan baru kali ini mendekati deal. Yang lain-lain susah deal karena hampir semuanya minta dibeli, bukan dikerjasamakan.

"Gila nih pak AW, setelah hunting selama 1 tahun, baru kali ini saya bisa deal meski baru secara secara lisan. Dan saya sudah terapkan semua jurus-jurus dari pak AW, yaitu soal menentukan harga tanah, menentukan komposisi pembagian laba (profit sharing), serta membatasi modal yang kita keluarkan. Semua jurus yang saya pelajari di workshop sudah saya keluarkan. Dan senang banget yang ini sudah deal ....."

Susi menjelaskan kalau dia deal untuk lahan seluas 8200 m2 di pinggiran kota Surabaya, harga lahan Rp. 450.000/m2, dengan DP 20% dibayar saat IPT atau Ijin Lokasi sudah terbit dan lahan siap dibalik nama. Sisanya pengakuan hutang yang dibayar mulai bulan ke 12 s/d ke 18. Untuk konsep kerjasama ini, pemilik tanah mendapat bagian laba 20%.

"Pak AW, dengan posisi saya yang sudah deal lisan seperti ini, dan lahan siap untuk dieksekusi, lantas apa yang harus saya lakukan? Urutannya seperti apa? Skenario legalnya seperti apa? Mohon arahan dan bimbingannya .... Pak AW ini suhu saya, jadi kalau muridnya bertanya, harus dijawab ya ...."

Hahaha, kagak tahan mendengar rayuan WTS asal Surabaya ini. Dan sayapun dengan cepat dan sigap berjanji akan membantu Susi untuk menyusun SKENARIO LEGAL nya, yang saya jelaskan bahwa semua harus diawali dengan membuat SURAT KESEPAKATAN BERSAMA. Jika SKB sudah ditanda-tangani, maka opportunity sudah ditangan. Tinggal dibuatkan BUSSINES PLAN nya guna mencari pemodal.   

Saya berjanji akan mengirimkan ke Susi draft SKB yang dimaksudkan, tapi dalam versi blanko. Biar nanti Susi merevisi sendiri sesuai dengan data-data lahan yang dimaksudkan. Tak lupa saya berikan semangat dan motivasi agar dia bisa sukses melakukan eksekusi proyek pertamanya tersebut. Jika butuh bantuan mencarikan pemodal, saya bisa bantu jika memang labanya cukup menarik.

Dan inilah draft SKB yang telah saya emailkan ke Susi ...

Catatan : foto di artikel ini bukan foto Susi yang sebenarnya, karena saya tidak punya foto Susi. Itu fotonya cari di google, semoga yang punya foto marah dan mencari saya. Asyiik bisa kenalan ..