Selasa, 19 Februari 2013

MURID PALING CENTIL DI KELAS

MURID PALING CENTIL DI KELAS



www.JinProperti.com - Tanpa sengaja, saat sedang pijat refleksi disebuah tempat di kota Semarang, saya bertemu dengan guru SD saya dulu, yang bersebelahan dengan saya di kursi pijat. Tentu saja beliau sudah tua (diatas 60 tahun) dan sudah pensiun mengajar. Katanya kegiatannya sekarang beternak ayam.

Saat saya memperkenalkan diri sebagai muridnya 30 tahun yang lalu di SD Srondol Wetan Banyumanik Semarang dan bernama Ari Wibowo, apa jawaban beliau? "Ahaiii, ini Ari yang jago matematika itu ya? Yang nilai matematiknya selalu 9." Tuing tuingg ..., kepala saya langsung membesar dipuji demikian. Gila, beliau masih ingat saya.

Kemudian beliau menanyakan bagaimana kabar Hesti? Wah, itu nama cewek paling cantik dan centil di kelas. Juga kabar si Dayat, murid berkulit hitam paling bengal dan suka berantem di kelas, yang tak naik kelas karena bolos saat ulangan umum. Tentu saja saya tak mampu menjawab pertanyaan tersebut karena memang tidak tahu jejak kedua teman tadi.

Sobat properti, apa yang menarik dari pembicaraan dengan guru SD saya diatas? Yaitu pak guru yang sekian puluh tahun mengajar dan punya ribuan murid, ternyata masih mampu mengingat beberapa nama muridnya. Dan yang diingat adalah beberapa murid yang punya predikat 'paling' di hal-hal tertentu.

Saya diingat karena paling jago dalam pelajaran matematika. Hesti diingat karena paling centil di kelas. Dayat diingat karena paling bengal di kelas. Murid-murid lain yang tak punya predikat 'paling ....' mungkin pak guru lupa namanya. Yang biasa dan datar tanpa ada sesuatu hal yang menarik dan menonjol, cenderung tidak diingat.

Sobat properti, dalam teori marketing dikenal istilah DIFFERENSIASI. Ini adalah salah satu cara menciptakan keunggulan kompetitif atas pesaing anda. Caranya adalah dengan menciptakan perbedaan. Bukan sekedar perbedaan, tetapi perbedaan yang mengandung benefit, alias manfaat yang bisa dinikmati konsumen.

Dan kalau anda bermaksud menciptakan 'perbedaan', lakukanlah secara ektrem dan benar-benar beda, supaya diingat oleh konsumen. Supaya produk yang kita pasarkan masuk di benak konsumen karena memberikan benefit yang berbeda dibanding pesaing lainnya.

Makin ekstrem bedanya, makin diingat konsumen. Makin besar benefitnya, makin nyangkut di benak konsumen. Makin besar peluangnya produk anda dibeli oleh konsumen.

Misal; pesaing membangun perumahan dengan lebar jalan kisaran 6 s/d 8 meter, anda membuat jalan lebar 10 m.

Misal; pesaing memberi subsidi KPR selama 6 bulan, anda memberi subsidi KPR selama 24 bulan.

Misal; pesaing menawarkan uang muka 20% kepada konsumen, anda menawarkan program DP 0% kepada konsumen.

Ingat ya, ciptakan differensiasi, berikan perbedaan, tapi perbedaan yang memberi manfaat kepada konsumen. Anda pasti memilih diingat pak guru karena jago matematika seperti saya, atau karena cantik jelita seperti Hesti. Bukan diingat pak guru karena bengal dan pernah tak naik kelas seperti Dayat. Sama-sama ekstrem dan punya predikat 'paling ....'. Tapi value positif tentu saja lebih pantas dikedepankan sebagai keunggulan kompetitif.

PENGIN PUNYA RUMAH DEKAT KANDANG AYAM? PING!!! ME

PENGIN PUNYA RUMAH DEKAT KANDANG AYAM? PING!!! ME




www.JinProperti.com - Seorang teman tak percaya ketika saya kasih kabar bahwa kami menjual 140 unit rumah murah dalam waktu hanya 2 bulan saja. Padahal proyek RSH (rumah sederhana sehat) KAMPOENG PELANGI yang kami pasarkan terletak di kecamatan kecil bernama Kalinyamatan yang masih 30 menit dari pusat kota Jepara.

Teman tadi bertanya, apa rahasia atau resep dari suksesnya penjualan Kampoeng Pelangi, saya jawab seperti ini;

#1. PEROLEHAN LAHAN MURAH


Dengan harga lahan yang hanya Rp 55.000/m2, maka kami bisa menerapkan strategi COST LEADERSHIP yang menciptakan keunggulan kompetitif terhadap pesaing. Cost Leadership adalah menjual produk dengan harga lebih murah dibanding kompetitor, akan tetapi dengan level benefit yang sama atau justru lebih baik.

Kompetitor terdekat menjual di harga Rp 78 juta, dan kami hanya memasarkan di harga Rp 73 juta saja. Ingat, di segmen kelas bawah seperti itu, selisih harga sekedar Rp 5 juta saja sudah sensitif dalam mempengaruhi keputusan konsumen.

#2. ADA DEMAND TAK ADA SUPLY

Hasil survei kami, di kota kecamatan tersebut dalam 5 tahun terakhir tak ada satu pengembangpun yang memasarkan produk rumah murah. Padahal dimanapun juga kami meyakini kebutuhan papan adalah riil dan selalu ada tiap tahun. Meski itu kecamatan kecil, kami yakin demand (permintaan) pasti ada. Jika selama 5 tahun tak ada suply, pastilah produk yang dilempar akan diserap oleh pasar. Dan itu benar-benar terjadi.

#3. KEBUTUHAN LEBIH PENTING DARIPADA HARAPAN

Saat perijinan untuk proyek ini sudah terbit, investor yang saya gandeng mundur dengan alasan tepat disamping proyek pada saat bersamaan sedang dibangun kandang ayam oleh tokoh masyarakat setempat. Dikuatirkan bau dan polusi udara akan membuat calon konsumen alergi.

Saya tidak bergeming, dan menggandeng investor baru untuk masuk yang tidak takut dengan kandang ayam. Alasannya? Karena saya tahu teori tentang 'KEBUTUHAN - KEINGINAN - HARAPAN'. Kebutuhan memiliki hirarki paling tinggi, disusul Keinginan, dan paling akhir adalah Harapan. Tak ada yang berharap punya rumah didekat kandang ayam. Tapi kalau kemampuan seseorang sangat pas-pasan, dan dia butuh rumah, maka Kebutuhan akan lebih dominan daripada sekedar Harapan. Punya rumah dekat kandang ayam atau tak punya rumah? Pasti mereka memilih punya rumah meski terletak dekat kandang ayam.

#4. BERIKAN PERBEDAAN

Jika kami berpikir membangun rumah sebelah kandang ayam adalah sebuah minus point, maka kami yakin bahwa sebuah DIFFERENSIASI alias perbedaan akan membuat nilai minus menjadi netral alias tak dipandang lagi oleh konsumen. Kami memberikan perbedaan yang bukan sekedar beda, tapi memberikan benefit (manfaat) kepada konsumen.

Kami berikan jalan yang lebar 7 atau 8 meter, dengan paving yang mulus dan rapi. Gerbang masuk juga dibuat bagus dengan taman asri di kanan kiri. Desain bangunan juga minimalis modern yang cantik dan berwarna warni. Bahkan kusen alumunium menambah value rumah murah yang kami pasarkan karena seakan-akan sekelas real estate.

Nah, semua differensiasi tersebut menjadi plus point yang membuat orang tak peduli bahwa sewaktu waktu ada bau kotoran ayam yang menyengat hidung mereka. Tanpa anda ciptakan differensiasi yang mengandung benefit, konsumen akan terus mengingat segala hal yang jelek (minus point) tentang proyek anda. Tapi kalau anda berikan benefit, konsumen dibuat lupa.

Sobat properti, sekian dan demikian saya berbagi cerita tentang menjual rumah 140 unit (dari jumlah total 152 unit) dalam waktu 2 bulan. Semoga bisa menjadi inspirasi buat anda yang membacanya.

Pengin punya rumah dekat kandang ayam? PING!!! me.

Minggu, 03 Februari 2013

SAYA INI PARANOID

SAYA INI PARANOID

www.JinProperti.com - Duluuuuuu sekali di tahun 1995, saat naik pesawat adalah barang mahal, saat gaji masih kecil, saat saya masih kerja setahun di Pulau Batam, saya pernah pulang dari Batam naik kapal milik Pelni. Start dari pelabuhan Sekupang Batam dan tujuan akhir adalah di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.



Satu hal menarik yg saya ingat saat itu adalah bahwa saya membawa 2 tas. Satu tas besar berisi baju-baju, dan satu tas lagi adalah ransel berisi perlengkapan darurat. Jangan ketawa ya, saya ini paranoid. Saking takutnya kalau-kalau kapal tenggelam, saya membawa satu tas ransel khusus berisi beberapa bungkus mie instan, tempat minum berisi air putih (waktu itu belum ada air mineral kemasan), dan beberapa bungkus roti pisang keju.

Bayangan saya, andai terjadi musibah kapal tenggelam, saya akan mencari pelampung lalu melompat ke air laut dengan membawa ransel tadi. Setidaknya saya akan mampu survive di laut selama beberapa hari asal tidak dimakan ikan, hehe ....

Sobat properti, bersikap paranoid itu terkadang mungkin dianggap lebay. Terlalu berlebihan. Seperti kisah saya naik kapal membawa ransel diatas. Tapi sebuah pelajaran penting pernah saya hadapi terkait dengan hubungan saya selaku MPK (Mitra Pemilik Keahlian) dengan seseorang yang memposisikan diri sebagai MPM (Mitra Pemilik Modal).

MPM tersebut sudah setuju menjadi investor sebuah proyek yang saya kelola seluas 3 ha di sebuah kota di Jawa Tengah, dengan potensi laba 9 milyar, dimana MPM saya janjikan profit sharing 35%, asalkan bersedia menanamkan modalnya sebesar 1,5 milyar.

Tentu saja saat presentasi kepada MPM saya menyiapkan ACTION PLAN yang menjelaskan detail berapa omset, berapa budget biaya, berapa kebutuhan modal, berapa lama umur proyek, dan berapa potensi labanya. Tentu saja dilengkapi dengan proyeksi cash flow bulanan.

Dalam kasus tersebut, didalam proyeksi cash flow dijelaskan detail bahwa modal 1,5 milyar akan disetorkan MPM secara bertahap sebesar 300 juta selama 5 bulan berturut-turut.

Setoran ke 1 s/d ke 3 berjalan lancar. Pada saat setoran bulan ke 4, MPM ternyata megap-megap tak mampu menyetorkan modalnya. Saya kelimpungan. Proyek sedang berjalan kencang-kencangnya malah amunisinya tidak ada akibat MPM gagal menjalankan kewajibannya. Saya jatuh bangun dan babak belur menghadapi tagihan kontraktor serta kebutuhan operasional. Harus memberikan talangan pribadi dulu supaya proyek tidak macet.

Kondisi itu berlangsung sampai pertengahan bulan ke 5. MPM benar-benar membuat saya yang mengelola proyek kelimpungan. Sampai kemudian MPM datang lagi di pertengahan bulan ke 5 menyetorkan modal 300 juta lagi sehingga total setorannya menjadi 1,2 milyar. MPM mengatakan itu setoran modal terakhir yang sanggup dia jalankan. Kekurangan 300 juta lagi tak sanggup dia penuhi dan MPM meminta dicarikan MPM bayangan dengan diberikan profit sharing yang dipotongkan dari haknya.

Akhirnya saya carikan lagi modal 300 juta dari MPM bayangan, dengan menjanjikan profit sharing 7,5% yang saya potongkan dari hak MPM pertama, sehingga sisa hak MPM pertama tinggal 27,5% saja.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari kasus diatas?? Jangan percaya 100% kepada MPM. Karena bisa saja terjadi didalam perjalanan proyek ternyata MPM kesulitan menyetor modal. Bukan karena MPM tak punya duit, tapi mungkin karena duitnya dipakai untuk keperluan lain.

Jadi solusinya?? Setoran modal MPM jangan dicicil atau diangsur, tapi harus disetorkan dimuka supaya ada jaminan bahwa setoran modal terpenuhi. Jangan takut membuat MPM tersinggung karena seakan kita tidak percaya kepadanya. Tapi jelaskan bahwa sikap paranoid kita ini semata-mata demi kelancaran proyek.

Modal yang sudah tersedia di saldo kasbank akan membuat kita lebih save dan nyaman menjalankan proyek. Sediakan payung sebelum hujan. Bawalah mie instan dan air minum sebelum kapal tenggelam, hahaha ...

Rabu, 10 Oktober 2012

JURUS KADAL BUNTUNG


JURUS KADAL BUNTUNG
Strategi Menyehatkan Cashflow

www.JinProperti.com - Pernah dengar istilah 'autotomi'? Itu cara alami cicak dan kadal melepaskan diri dari bahaya dan ancaman predator, yaitu dengan cara memutuskan ekornya, supaya ekornya dimangsa oleh predator, tetapi dirinya sendiri tetap survive dan bertahan hidup karena berhasil melarikan diri.

Apakah cicak dan kadal merasa kesakitan dan terluka parah akibat memutuskan ekornya sendiri? Tidak. Karena secara alami mereka dikaruniai organ titik putus dibagian ekornya, yang dengan sedikit mengejan akan terlepas tanpa luka-luka berarti.

Ajaibnya, meski sudah terlepas dari rangka tubuhnya, ekor yang lepas itu masih bisa bergerak-gerak menarik perhatian si predator. Sementara cicak atau kadalnya sendiri pergi melarikan diri.

Dan lebih aneh lagi, berapa kalipun mereka melakukan hal ini, ekornya akan tumbuh dan tumbuh lagi. Tidak ada batasan bahwa kalau sudah pernah melakukan teknik autotomi sekian kali akan mengakibatkan ekornya tak bisa tumbuh lagi dan menjadi binatang cacat alias kadal buntung atau cicak buntung.

Sobat properti, dalam bisnis properti kita juga bisa melakukan teknik autotomi lho. Yaitu mengorbankan sebagian lahan kita supaya dimangsa oleh investor pemburu 'gain', dan bersamaan dengan itu kita bisa melepaskan diri dari kesulitan cashflow.

Jangan bingung ya? Hehe ..

Saat saya berpromosi menjual rumah murah (RSH) di proyek Kampoeng Pelangi Jepara type 36 seharga 40 jutaan, banyak yang merespon dengan bingung.

"Suhu, dapat tanah gratisan ya? Kok bisa jual rumah T36 seharga 40 jutaan?" Tanya salah satu teman di BBM.

Yeah, jangan salah sangka. Harga 40 jutaan yang saya tulis di iklan itu sebenarnya adalah Rp 49.950.000,- dan inipun syaratnya berat, yaitu; dibayar cash alias lunas 100% dalam waktu 2 minggu, dimana bangunan siap huni di akhir bulan ke 8 sejak pelunasan.

Kenapa syaratnya berat? Karena kita tak ingin ada transaksi seperti ini secara massal. Ini hanya mengorbankan sebagian kavling dengan harga underprice, supaya dalam waktu singkat ada arus 'cash-in' yang masuk dalam jumlah besar. Misalkan ada 5 transaksi cash, setidaknya ada uang cash masuk 249.750.000,-. Misalkan ada 10 transaksi cash seperti ini, berarti ada uang cash masuk Rp 499.500.000,-

Lumayan sekali bukan? Itu bisa membantu menyehatkan cashflow kita di awal proyek.

Satu hal yang perlu anda ketahui. Uang cash yang masuk mesti dibarengi dengan menunda kewajiban penyerahan bangunan. Makanya dalam kasus diatas, bangunan saya janjikan serah terima di akhir bulan ke- 8 sejak pelunasan.

Kenapa mesti 8 bulan, kok bukan 4 bulan saja?

Karena di bulan ke-1 s/d ke-4 sejak uang cash masuk ke rekening proyek kita, uang tersebut akan kita pakai untuk diputar dalam pembiayaan bangunan yang dibeli konsumen dengan harga normal dan skim pembayaran via KPR. Jadi uangnya tidak dipakai untuk membangun rumah yang dibeli dengan cara bayar cash itu sendiri, tetapi justru dipakai terlebih dahulu untuk membangun rumah lain yang dibeli dengan cara pelunasan via KPR.

Jadi berkat uang cash itu kita terbantu cashflownya, karena ada cadangan kasbank memadai untuk membayar biaya bangunan yang dibeli konsumen dengan sistem pelunasan via KPR. Di akhir bulan ke-4, bangunan sudah selesai dan siap akad kredit. Ketika kredit cair, maka di saldo kasbank kita sudah tersedia saldo bank yang cukup, yang sekarang giliran bisa dipakai untuk membangun rumah yang sudah dibayar dengan cara pembayaran cash keras tadi.

Jadi rumah yang dibayar cash keras baru dibangun di bulan ke-5 s/d ke-8, dan diserahterimakan di akhir bulan ke-8. Tanpa anda menunda jadwal penyerahan bangunan seperti ini, percuma anda memberi harga khusus tetapi tanpa bisa menikmati manfaatnya sama sekali.

Berdasarkan pengalaman saya membangun RSH di Bogor, Karawang, Purwakarta dan Pati, kemungkinan (probabilitas) membayar cash keras untuk rumah murah sangat kecil, hanya ada 1 diantara 100 transaksi. Jadi dalam teori kadal properti di kasus diatas, dimana saya dengan sengaja mengorbankan rumah T-36 seharga Rp 49.950.000,-, kemungkinan ada pembayaran cash keras sangat tipis.

Kalau untuk pembayaran cash bertahap 5 bulan, saya memberikan harga Rp 55.000.000,- yang bisa dibayar 5x sebesar Rp 11.000.000,- tiap bulan. Dimana penyerahan bangunan juga tetap dijanjikan di akhir bulan ke-8.

Untuk kemungkinan mendapatkan pembelian cash bertahap seperti itu, ada probabilitas 5 diantara 100. Jadi sebenarnya untuk teori kadal properti dengan cara mengorbankan sebagian kavling dengan harga murah sekali, kemungkinan yang anda peroleh adalah pembelian secara cash bertahap. Kemungkinannya hanya 5 diantara 100. Jadi kita tak akan mampu mendapatkan konsumen dengan sistem cash bertahap ini secara massal.

Penjualan massal dengan kemungkinan 95 diantara 100 adalah pembelian dengan Uang Muka kecil, dan sisanya dilunasi melalui fasilitas KPR dengan bunga bersubsidi. Untuk kasus diatas, rumah T-36/60 saya jual normal dengan harga Rp 63.600.000,-

Sebagai penutup dari artikel ini, saya berharap anda mendapatkan pelajaran bahwa bisa saja anda melepaskan sebagian kavling dengan harga super miring supaya dimangsa oleh investor pemburu gain (keuntungan), yang penting proyek anda bisa melepaskan diri dari kesulitan cashflow di awal proyek.

Jika cashflow proyek bisa dibantu dengan cara tadi, kenapa tidak? Bukankah cicak dan kadal juga melepaskan ekornya supaya mereka selamat dari bahaya? Ini namanya jurus kadal buntung.

Senin, 08 Oktober 2012

Rumah T-36 Harga Cuma 40 Jutaan Atau DP 1 Jutaan Saja


RUMAH T-36 (2 KAMAR)
HARGA CUMA 40 JUTAAN SAJA
ATAU DP 1 JUTA SAJA

Kampoeng Pelangi, JEPARA - Disaat harga-harga material melambung tinggi, dan harga tanah tak terkendali, bermimpi mendapatkan rumah berkualitas layak dengan harga murah seakan-akan hanyalah mimpi.

Tapi mimpi itu bisa terealisasi di KAMPOENG PELANGI. Hunian nyaman di kawasan segitiga Gotri (Kalinyamatan, Welahan, Mayong) yang memiliki pertumbuhan ekonomi paling menjanjikan di kabupaten Jepara.

Tersedia rumah T-36/60 dengan harga hanya Rp 49.950.000,- dengan cara bayar cash 2 minggu lunas. Atau harga Rp 55.000.000,- dengan cara angsuran bertahap 5 bulan, tanpa melalui fasilitas KPR bank.

Atau jika anda bermaksud memiliki rumah dengan fasilitas KPR BTN, harga rumah T-36/60 adalah Rp 63.600.000,- dimana cukup membayar DP 1 juta saja maka anda sudah punya rumah idaman berlokasi nyaman dengan kualitas lingkungan menawan.

Minat?? Hubungi ....
Anjat 085227713456
Wahyudi 08122864699

Minggu, 30 September 2012

HANTU TAMBAL BAN


DEKLARASIKAN PROFESI ANDA

www.JinProperti.com - Siang itu saya sedang duduk di bangku kayu sambil berteduh dibawah pohon rindang di Monjali Yogya, sembari menunggu ban mobil yang sedang ditambal karena bocor. Saya duduk sambil asyik twiteran.

Saya heran di bengkel tambal ban tersebut ada wanita muda yang sedang duduk di bangku mengamati bapak tua penambal ban bekerja. Yang jelas pasien tambal ban saat itu cuma saya, dan mobil saya satu-satunya mobil yang ada disitu, jadi saya heran wanita muda itu siapa dan sedang apa.

Iseng-iseng saya bertanya; "Mbak nambal ban juga?"

"Oh, bukan om. Saya cuma sedang menunggui bapak saya saja yang sedang bekerja, karena sebentar lagi kami mau sama-sama pergi keluar kota. Mumpung saya sedang libur," jawab wanita muda tadi.

"Memang mbak kerja dimana?"

"Saya ikut perusahaan swasta di Jakarta, kerja sebagai hantu keliling," jawabnya sambil malu-malu kucing.

"Apa??? Kerja sebagai hantu keliling? Maksudnya apa nih mbak?" Tanya saya memendam rasa penasaran.

Akhirnya wanita muda itu bercerita bahwa dia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bisnis rumah hantu keliling. Berpindah dari satu kota ke kota lainnya, dengan membuka event rumah hantu. Tugasnya menjadi hantu kuntilanak yang duduk di tampat gelap dan menakut-nakuti pengunjung yang masuk dengan membayar tiket.

Hahahaha ..., lucu sekali dengar profesi menjadi hantu. Tapi saya respek dan salut dengan kejujuran wanita muda tadi yang tidak malu-malu mengakui pekerjaannya, meski hanya menjadi hantu kuntilanak.

Sobat properti, sudah pernahkah anda mendeklarasikan profesi anda di bisnis properti kepada relasi di lingkungan anda? Mengakui, mensosialisasi, dan mempublikasi apa profesi kita, akan membuat respon berdatangan sesuai dengan profesi kita di bisnis properti.

17 tahun yang lalu saat saya masih menjadi Sales Manager perusahaan real estate di Pulau Batam, saya selalu rajin bagikan kartu nama ke teman-teman main badminton, kepada kenalan-kenalan di gereja, kepada tetangga dll, serta dengan bangga saya selaku katakan bahwa saya Sales Manager perusahaan real estate.

Outputnya? Ada teman main badminton saya yang beli rumah. Ada teman gereja yang beli rumah. Ada tetangga yang beli rumah dagangan saya. Mereka meminta informasi soal rumah kepada saya dan akhirnya membeli lewat saya karena mereka tahu saya Sales Manager bidang properti. Jika saya tidak pernah mengakui secara terang-terangan, saya tak akan pernah mendapatkan peluang itu.

Saat ini saya juga sering sekali mendapat penawaran lahan atau bahkan penawaran take over proyek properti macet, karena mereka tahu saya seorang praktisi bisnis properti. Jika mereka tidak tahu saya pelaku bisnis properti, tak mungkin saya ditawari lahan atau tanah untuk proyek properti.

Saya juga terang-terangan mendeklarasikan diri sebagai suhu Perguruan Kungfu Properti? Hasilnya? Saya banyak diundang kesana kemari untuk memberikan jasa konsultasi serta mentoring. Bahkan blog properti saya sudah dikunjungi lebih dari 250.000 x oleh orang-orang awam yang tertarik belajar properti.

Bagaimana dengan anda? Jika anda tertarik menekuni bisnis properti, anda juga mesti mendeklarasikan profesi baru anda ini kepada jaringan dan relasi anda. Tanpa mendeklarasikan diri secara terang-terangan, anda tidak akan mendapat informasi yang memadai untuk menunjang bisnis anda. Persepsi orang masih tersandera dengan profesi anda sebelumnya, tidak tahu anda sekarang punya profesi tambahan sebagai pelaku bisnis properti.

Karena lalu lintas informasi dengan traffic tinggi akan membantu anda menemukan opportunity di bisnis property.

Saya punya kisah nyata dimana eks peserta workshop properti yang semula bukan pemain bisnis properti, dengan terang-terangan dia mendeklarasikan dirinya sebagai pelaku bisnis properti. Pasang status BB dan facebook mencari lahan, dan giat hunting cari lahan untuk digarap. Hasilnya? Dia mendapat lahan di Depok seluas 1,4 ha dengan skim bayar yang lunak sekali.

Luar biasa bukan? Kenapa tidak anda deklarasikan diri anda secepatnya sebagai pelaku bisnis properti kepada relasi-relasi anda?

Sabtu, 22 September 2012

AYO NYODOK DAN MASUKKAN KE LUBANG




AYO NYODOK DAN MASUKKAN KE LUBANG
Strategi Pemasaran Kreatif

www.JinProperti.com - Pernah bermain biliard? Dimana anda memakai bola putih dan stick untuk menyodok bola dengan nomor tertentu supaya masuk kedalam lubang?

Seorang pebiliard level pemula biasanya jika mau menyodok bola no 8, akan langsung mengarahkan bola putihnya menuju ke bola no 8 dan mengarahkan bola no 8 ke lubang. Straight! Mudah ditebak arah bolanya.

Tapi ada juga pebiliard level advance yang punya skill diatas rata-rata. Terkadang untuk menembak bola no 8, dia mengarahkan bola putihnya kearah ban karet ditepian meja, baru memantul mengenai bola no 8 dengan arah dan besaran sudut yang sangat presisi. Ini namanya sodokan effect!!

Yang luar biasa lagi, pebiliard level master seakan-akan menyodok bola no 8, akan tetapi bukan mengarahkan bola no 8 masuk ke lubang, melainkan mengarahkan bola no 8 membentur bola no 15, dan justru bola no 15 yang masuk ke lubang. Padahal dalam permainan biliard, memasukkan bola no 8 mendapat poin 8. Dan memasukkan bola no 15 mendapatkan poin 15. So great!!

Sobat properti, memasarkan properti terkadang bisa memakai jurus bola biliard juga, yaitu tidak mengarahkan bola putih langsung ke bola dan lubang sasaran. Tidak melakukan promosi langsung menuju konsumen yang disasar, tetapi mengambil arah memutar dengan memakai media perantara, yaitu broker atau mediator.

Terkait program launching perumahan mini cluster eksklusif PAPI (PAnorama meraPI) di kota Magelang yang akan saya lakukan tanggal 6 Oktober 2012 mendatang, saya justru memulainya dengan sebuah event yang bernama MAGELANG BROKER GATHERING. Agendanya berupa ngopi bareng di hotel paling mewah di kota Magelang.

Saya sengaja tidak menyebut-nyebut kata 'properti' sama sekali di spanduk sejumlah 50 buah yang akan kami sebar ke seluruh penjuru kota Magelang. Kesannya saya ingin mengumpulkan banyak orang yang berprofesi broker di kota Magelang untuk kumpul-kumpul di sebuah acara gathering. Gak peduli broker tanah, broker mobil, atau broker apapun juga. Pokoknya yang suka brokeran dibikin penasaran supaya mau hadir.

Apakah event gathering tersebut akan mengundang minat mereka untuk hadir? Saya berharap banyak broker yang akan hadir. Bayangkan! Ngopi gratis di hotel berbintang, dan ada doorprize berupa 2 blackberry. Padahal itu blackberry murahan seharga 500 ribuan saja.

Lalu apa yang akan saya lakukan di acara gathering tersebut? Kami akan menerima mereka dengan agenda pembuka berupa minum kopi dan makan snack di teras banquet room. Saat peserta sudah berkumpul barang 50 - 100 orang, maka semua yang hadir dipersilahkan masuk dan acarapun kami mulai. Pada saat itulah mereka baru tersadar bahwa yang mereka hadiri adalah gathering peluncuran produk properti.

Jumlah rumah yang kami pasarkan hanya 35 unit saja. Terdiri atas 12 unit type 54 dan 23 unit type 40. Didepan broker gathering tersebut, mereka akan saya berikan informasi terlebih dahulu berupa product knowledge dan berbagai benefitnya. Kalau soal melakukan presentasi dan memotivasi, saya lumayan bisa diandalkan, haha ..

Dan berikutnya saya akan menawarkan kesempatan istimewa untuk membantu memasarkan produk hunian PAPI dengan fee penjualan sebesar Rp 4.800.000. Untuk ukuran kota kecil seperti Magelang, nilai Rp 4.800.000 tergolong besar dan menarik. Budget tersebut sudah saya anggarkan sebelumnya di Action Plan.

Mengingat jumlah rumah terbatas hanya 35 unit saja, maka kepada broker yang hadir, saya tawarkan opsi sebagai berikut;

KUPON GOLD
Membeli Kupon GOLD seharga Rp 100.000, akan mendapat kesempatan selama 30 hari untuk memasarkan produk, dimana jika closing mendapatkan fee penjualan Rp 4.800.000. Jika dalam waktu 30 hari belum berhasil membawa konsumen membeli produk PAPI, maka kuponnya hangus.

KUPON SILVER
Membeli Kupon SILVER seharga Rp 50.000, akan mendapat kesempatan selama 15 hari untuk memasarkan produk, dimana jika closing mendapatkan fee penjualan Rp 4.800.000. Jika dalam waktu 15 hari belum berhasil membawa konsumen membeli produk PAPI, maka uangnya hangus.

Note;
Apabila penjualan ternyata laris manis dan semua unit sudah sold out, padahal broker pembeli kupon sudah mendapatkan konsumen, maka kepada mereka akan diberikan kompensasi sebesar 2x harga kupon.

Kepada siapa kami mengundi doorprize berupa 2 buah blackberry? Itu hanya kami lakukan untuk para broker yang membeli kupon. Tanpa membeli kupon (gold atau silver), maka tak ada peluang mendapatkan hadiah doorprize. Jadi sebenarnya pengundian doorprize ini adalah guna memancing broker yang hadir supaya tertarik membeli kupon. Dengan memegang kupon, secara tak langsung mereka punya mandat agar segera memasarkan produk PAPI.

Jika kami mengerahkan sales force dari komunitas broker, apakah itu berarti sales internal kami yang ada di front office akan dimarginalkan perannya? Tidak!! Sesungguhnya mereka juga saya berikan kesempatan emas untuk bekerja keras membukukan transaksi penjualan dengan fee yang sama sebesar Rp 4.800.000 juga.

Jadi dalam periode 6 Oktober s/d 6 Nopember 2012, dengan sengaja saya mengalokasikan budget Rp 4.800.000/unit untuk fee penjualan. Entah siapa yang akan closing, baik broker luar ataupun sales internal kami, tetap saja namanya closing. Jadi ini persaingan terbuka dan kompetitif, dengan iming-iming yang sangat menarik.

Saya berharap dalam periode 1 bulan pertama tersebut, bisa dibukukan transaksi penjualan sebanyak-banyaknya. Syukur-syukur sold out. Dan tentu saja saya akan membantu kinerja sales ataupun broker dengan membangun awareness produk selama 1 bulan pertama tersebut dengan publikasi dan sosialisasi produk di benak konsumen. Karena produk yang dikenal konsumen akan lebih mudah dijual.

Jika 1 bulan penjualan dengan mengandalkan daya tarik fee penjualan yang besar tersebut sudah lewat, dan masih ada unit stok yang tersisa, maka saya akan mengubah strategi pemasaran dengan hanya menyediakan fee penjualan sebesar Rp 1.500.000 saja. Baik untuk sales internal ataupun mediator dari luar tanpa harus membeli kupon lagi.

Sedangkan untuk budget Rp 4.800.000 yang tidak jadi dialokasikan akan saya alihkan menjadi budget gimmick yang diberikan kepada konsumennya langsung. Entah berupa hadiah langsung, subsidi angsuran KPR, atau bentuk program lainnya yang ditujukan ke konsumen alias pembeli.

Nah, itulah strategi pemasaran ala bola sodok, dimana saya tidak mengarahkan program promosi langsung menuju ke calon konsumen, tapi justru memutar dulu ke sasaran lain, yaitu melalui jasa mediator ataupun broker. Apakah ini strategi yang benar atau salah? Saya tak peduli. Yang penting ayo kita sodok dan masukkan bolanya ke lubang.